Pages

Showing posts with label Ungkapan rasa. Show all posts
Showing posts with label Ungkapan rasa. Show all posts

04/10/2013

Ruang Harapan


 

Aku masih terlelap saat seorang suster memasuki kamarku, memeriksa aliran infusku dan mengecek detak jantung dan suhu tubuhku dengan seksama. Aku tersenyum sembari menggumamkan  " Selamat pagi, Sus.. "
Wajah ramahnya terus menyunggingkan senyum  " Bagaimana mba, sudah lebih enakan ? setelah minum obat tidur bisa tidur pastinya ya " tanyanya ramah.
Aku mengangguk " Bagaimana jadwalku hari ini ? apa aku boleh istirahat atau...? " aku sengaja menggantung pertanyaanku, menggoda meski aku tahu jawabannya, siapa tahu aku beruntung dan bisa istirahat di ruanganku hari ini. Tubuhku masih nyeri hingga keseluruh sendi-sendi, rasa mual yang menerus, lemah dan perasaan tidak nyaman yang hanya membuatku ingin tetap tinggal di atas tempat tidur dan tidur sepanjang waktu..

Suster itu menjawab " Hari ini mba harus tetap menjalani khemotheraphy, meski lengan mba sudah memar-memar tapi jadwal untuk seri pertama adalah 5 kali dan tidak boleh ada jeda. Ini hari terakhir untuk seri pertama loh...kalau kondisi mba baik, nanti sore begitu selesai sudah bisa pulang "
Sedikit menghibur, dia tahu betapa seri pertama dari rangkaian khemotheraphyku sudah membuatku lelah.

Secara perlahan seluruh sel-sel dalam tubuhku dihancurkan, khemotheraphy yang bertujuan membunuh dan membasmi sel-sel kanker di dalam tubuhku mau tidak mau juga menghancurkan semua sel termasuk sel sehat. Ya ini adalah rangkaian peperanganku melawan kanker kolon ( usus besar ) stadium 3 setelah dua kali operasi pembedahan, dan tidak ada yang menyangka jika 5 tahun kemudian aku menjalani kembali operasi pemotongan tumor yang ke 3. Rangkaian umum bagi seorang pasien kanker, pembedahan, khemotheraphy, bahkan radiasi. Syukurlah aku tidak harus membiarkan diriku pasrah menjalani radiasi. Meski khemotheraphy intravena dan oral harus aku jalani dengan suka cita kalau mengeluh dan menunda hanya membuat sel kanker ganas itu berdansa riang.

18/09/2013

Bersyukur Tanpa Batas


Ini catatan lama di awal tahun 2013, ada beberapa revisi yang aku buat terkait catatan medis. Tulisan yang kubuat sefiksi mungkin, namun berdasarkan kehidupan nyata dua orang wanita.

By Google

Di sebuah taman kota ketika langit pagi hari begitu terang dan awan putih melayang selembut kapas. Barisan bangku taman yang berbentuk melingkar. Pepohonan yang rimbun, air mancur , penjual balon, makanan ringan, hingga lalu lalang pejalan kaki.Yang bergegas atau berjalan lambat menikmati udara dan pemandangan sekitar. Aku diantara rimbun pohon bunga flamboyan yang kuncupnya baru saja bermekaran. Di sebuah bangku tak jauh tempatku menikmati keindahan hari ini, aku menyimak dan memandang lalu terpaku pada dua sosok wanita yang asyik bercengkrama.

” Bagaimana kabar Dokter Petrus ? minggu lalu saat ke RS, susternya bilang beliau sedang seminar di luar “  wanita usia 30 tahunan berparas manis itu bertanya sembari membuka bekal sarapan paginya.

” Beliau sudah kembali, kemarin aku baru menemuinya. Nih… ” wanita berselendang jingga itu menunjukan bekas tusukan jarum yang meninggalkan bekas lebam disepanjang lengannya.

” Syukurlah, obat-obatanku habis, ada nyeri di pinggul dan tumitku. TBC tulang ini gak asik banget buat wanita sibuk sepertiku…” Meski kalimatnya seperti keluhan keduanya justru berwajah secerah pagi hari, bahkan akhirnya tergelak berdua.

16/09/2013

Pagi dan Sunyi



Pernahkah merasa sendiri ? dalam artian sungguh-sungguh merasa sendiri, seolah ada ruang berongga di dalam hati ? perasaan hampa, sesak, dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Mengalir diam-diam hingga jauh ke dalam hati. Namun tak ingin bicara dengan siapapun, tak ingin bertemu siapapun.

Ada saat kesendirian adalah waktu dimana kita mendengar lebih jelas bisikan hati yang terdalam, mendengar sejujur apa hati kita berkata. Ada saat air mata hanya cukup untuk dialirkan, bukankah baik untuk menghalau debu dari lingkar bening matamu. Ketika kehampaan dan kesedihan begitu menyiksa, tidak akan kuperturutkan amarahku. Biarkan rasa sakit melayang bertemu muaranya segala rasa.

Apapun rasa yang berefek pada berubahnya suasana hati menjadi kelabu, kuterima dan rasakan. Bukankah dalam hidup semua ini biasa, semua orang akan merasa benar. Semua orang akan bersedih jika merasa tersakiti. Dan bisa jadi ini hanya pembelaan diri, bagi pihak lain mungkin saja kitalah biang kerok segalanya. Semua orang akan merasa benar, semua ingin membela diri. Menuding orang lain dan menyalahkan orang lain memang paling mudah.

03/09/2013

Dear Daughter




Dear Daughter,... Tazkia Mutiara Senja

Mendapat tugas dari tante Indah dan melanjutkan tantangan menulis tentang anak-anak perempuan kami ( Makmin KEB ) akan ibu pergunakan untuk menuliskan perasaan ibu kepadamu Nak. Kelak ini akan menjadi salah satu catatan hati ibu tentangmu.

Skenario Tuhan yang membawa ayahmu ke dalam hidup ibu, beliau bilang didetik pertama bertemu, ayah langsung ingin menikah dengan ibu. Dan eyangmu segera mengatur pertunangan lalu pernikahan kami. Semua begitu cepat Nak, saat itu ibu berdoa semoga skenario Tuhan dan restu orang tua akan memudahkan segalanya.

Usia ibu masih sangat muda saat dinyatakan hamil, kemanjaan masa remaja masih melekat. Masa awal kehamilan yang tampak disebagian orang begitu indah menjadi begitu sulit bagi ibu. Anak manja yang sebelumnya tidak pernah jauh dari orang tua, tiba-tiba harus hidup terpisah. Meski ayahmu memudahkan segalanya tapi kesehatan ibu yang tidak begitu baik ditambah masa kehamilan membuat ibu begitu lemah dan selalu menutup diri. Namun gerakan mu di dalam kandungan ibu menyentuh jauh ke dalam naluri ibu yang terdalam.

Kaka lahir dengan selamat, sakitnya kontraksi, episiotomi dan melahirkan hilang tanpa jejak saat melihat wajahmu. Saat itu kaka mulai mengajarkan ibu makna tentang perjuangan dan kesabaran. Kaka tersayang... maafkan ibu karena saat itu ibu masih takut menggendongmu,belum mengerti bagaimana memandikan dan memakaikanmu baju. Ibu juga di landa baby blues. Untunglah ada Mba pengasuh yang bekerja di rumah untuk membantu mengurusmu, memandikan dan alhamdulillah saat itu ibu sempurna memberikanmu ASI. Perlahan ibu mulai belajar menjadi ibu yang sesungguhnya. Sekarang ibu tahu, dengan menghadirkanmu begitu cepat, Tuhan memberikan sekolah kehidupan lebih lengkap untuk ibu.

16/01/2013

Ketika putriku bertanya,...



Disatu waktu dari lima waktu yang wajib kulakukan, putriku berdiri dibelakangku menjadi makmum. Mendirikan kewajiban yang menjadi kebutuhanku sebagai insan.
Rakaat demi rakaat,... ayat dan surah ku bisikan sepenuh rasa.
Meski hanya surah pendek yang hafal di luar kepala, aku tahu... DIA tahu betapa penghambaanku luluh pada ke Maha Besarannya.

Hingga rakaat terakhir dan salam, lalu kedua tangan kuangkat bermohon dan berdoa.
Pada ampunan untuk semua kehilafan dan kealpaanku yang ku sengaja atau pun tidak, shalawat dan salam pada Nabi mulia akhir jaman...  

Putriku masih duduk turut berdoa, entah apa yang dia minta tapi slalu ku ajarkan padanya bahwa dia bisa memohon dan meminta apapun pada Allah.
Tentu doa dan perngharapan yang baik,  Allah maha baik jadi mintalah semua yang baik-baik kepadaNYA, pasti DIA tidak akan mengecewakanmu.

Doaku selesai, mengadukan segala keresahanku, mendoakan orang tuaku, mereka yang aku kasihi...dan berharap ampunan dan rahmatNYA yang tak pernah berbatas

" ibu,... kenapa kalau berdoa ibu lama sekali ? " sambil mencium tanganku putriku bertanya, aku menatapnya.

" lama atau sebentar tak masalah nak, yang terpenting hatimu ikhlas berdoa sepenuh hati. ibu berdoa lama karena tidak hanya meminta, tapi ibu juga mengadu "
Sepertinya jawabanku justru membuatnya semakin penasaran,

" mengadu ? " tanyanya keheranan.

" iya, mengadu... adukan apapun yang menjadi kesedihanmu, kemarahanmu, masalahmu, penderitaanmu bahkan apapun yang ingin kamu adukan padaNYA. Jangan sungkan,... karena bukan ayah, ibu atau anak, bahkan pasangan hidup yang bisa kamu andalkan kak. Tapi Allah...  " aku menatapnya penuh sayang.

" aku berdoa meminta di ampuni dosa dan meminta apapun yang aku minta atau berdoa apapun yang aku mau. Bukannya kalo mengadu kaka bisa mengadu sama ibu ? " 

" tentu saja kaka juga harus dan boleh mengadu sama ayah atau ibu, atau pada sahabat kaka yang baik misalnya. Tapi kami atau orang- orang terdekatmu tidak selalu bisa ada di sampingmu saat kaka membutuhkan dukungan kami sayang, tidak selalu mengerti keinginanmu. kelak, kalau kaka sudah dewasa... kaka akan mengerti bahwa kita tidak boleh mengandalkan dan bergantung pada manusia meski itu orang terdekat kita sekalipun. Kaka tahu kenapa saat sakit atau dulu ketika di khemotheraphy dan ibu kesakitan, ibu menyebut laaillahaillaallah, allahu akbar atau lahaula walaquwata illabillah ? bukan ayah, mama atau papa sebagai orang tua ibu atau menyebut dan memanggil-manggil dokter? " tanyaku sambil membuka mukena yang kami kenakan, melipatnya kembali.

Putriku yang gemar membaca dan pendiam itu mengangguk....
" karena Allah yang menyembuhkan ibu.... " jawabnya yakin.

" benar sayang,... karena orang-orang yang mencintai ibu sekalipun tidak bisa menyembuhkan atau meringankan sakit ibu. Dan karena ibu hanya ingin mengandalkan Allah saja,...dokter membantu ikhtiarnya tapi yang menyembuhkan hanya Allah. DIA yang akan menggerakkan hatimu untuk menentukan arah atau memberimu kelegaan dan ketenangan. papa ibu atau eyang mu bilang kalau kita bergantung sama manusia, kita akan kecewa

Putriku mengangguk tanda dia sudah mengerti apa yang aku maksud,.... 

" tentu bukan berarti kita tidak boleh meminta bantuan pada orang lain atau manusia ? tapi gantungkan hatimu, jiwamu dan andalkan segala urusanmu hanya pada Allah... "  
Putriku mengangguk sekali lagi, aku memeluknya... 

" ibu juga tidak selalu seperti itu sayang, kadangkala ibu lemah juga... ibu menghamba juga pada dunia dan manusia lainnya. Tapi membuatmu mengerti dan mengajarkan apa yang baik pada putri kesayangannya adalah salah satu tugas seorang ibu, meski ibu sendiri masih jauh dari baik apalagi sempurna dan sedang terus belajar mengkaji diri "
Aku memeluknya, bersyukur moment ini dihadirkan untuk aku dan putriku. 

" Jangan biarkan ada yang mendominasi hatimu melebihi penghambaanmu kepadaNYA...."  #Bisik hatiku pada diriku sendiri.



  *Irma Senja dan Tazkia mutiara senja*



    

 
  

 

26/11/2012

Besok juga sembuh,...



Empat hari sudah nyeri menjalar dari bahu, tangan, leher, kepala dan telinga dan aku bosan bertemu dengan dokter mana pun.
Pemanas ini masih berfungsi jika ditempel di bahu atau leherku, dan obat penghilang sakit masih banyak dikotak obat. Meski hanya membuat aku tertidur lalu saat bangun terasa lagi.
Biasanya nyeri nya sesekali saja tdk selama ini, mungkin besok jg sembuh. #harapku#


21/11/2012

Hidup begitu indah,...


Mendadak saya ingat satu peristiwa karena celotehan teman saya kemarin lalu, dia bilang gak akan ada yang mengira ada sesuatu yang serius ditubuh saya atau gak akan ada yang menyangka bahwa saya adalah salah satu penyintas. Dan pernah menjalani sekian perjalanan cukup melelahkan terkait dengan kesehatan.

Ya, saya ingat saat itu saya sedang menunggu panggilan untuk proses kolonoskopi yang merupakan pemeriksaan penunjang kondisi saya
Saya sedang menunggu di ruangan khusus pasien endoskopi yang bersamaan dengan ruang hemodialisa atau cuci darah. Saya baru menjalani dua kali operasi saat itu.

Seorang ibu setengah baya tampaknya diam-diam memperhatikan saya lalu dia bertanya,
" mau menjalani pemeriksaan apa dik atau sedang mengantar ya ? "
Saya tersenyum dan menjawab " saya mau kolonoskopi bu,... " sinar matanya tampak heran, " loh, adik sakit apa ? keliatannya sehat bugar " dalam hati aku mengucap alhamdulillah, bahkan setelah menjalani dua kali operasi dan sebelumnya menjalani perawatan di RS begitu panjang dengan diagnosa Cancer saya masih terlihat tampak sehat dan baik-baik saja :)    

Entah kalau ini pembawaan saya, atau saya memang tidak ingin terlihat seperti pasien pada umumnya. Tapi selama saya masih bisa berjalan dan melakukan segalanya sendiri saya ingin terlihat baik-baik saja. Mama saya nyaris menangis karena beberapa saat menjelang operasi pemotongan kanker pada usus besar saya, pagi harinya saya minta mandi besar. 

Dengan kedua tampon infus dikedua tangan dibantu mama, saya mandi.... saat itu saya berfikir bisa saja saya tidak bangun lagi dari meja operasi dan saya ingin dalam keadaan bersih saat menghadap Allah.

Atau saat suatu pagi saya tidak bisa berjalan tegak karena nyeri perut yang hebat, dan kami memutuskan harus ke RS. Saya nyaris membuat suami saya kesal bukan kepalang, karena saya memaksa mandi  dulu dan berganti baju dengan baju yang pantas untuk keluar rumah, padahal wajah saya meringis menahan sakit dan jalan saya bongkok karena nyeri pada abdomen. Heheee,... ini mungkin karena inilah saya, selain karena saya memang tidak ingin terlihat menyedihkan meski dalam kondisi sakit sekalipun.

Menjadi penyintas tidak membuat saya menjadi tidak bahagia, dulu saat berperang saya menjalaninya dengan sepenuh hati...fokus, serius dan memperkecil dunia dikepala saya. Lalu saat sel kanker saya pada tahap remisi, saya bersyukur dan menikmati hidup sebaik mungkin. Dan saat saya menyadari, sekali menjadi penyintas maka seumur hidup saya tetap harus bersiaga penuh dan menyadari ada tali pengikat kanker usus dengan garis keturunan  tidak membuat saya berkecil hati. Hanya mereka yang hatinya luas dan tegar yang Tuhan pilih, sayangnya Tuhan mempercayai saya mampu menanggungnya :)

Anak-anak adalah hadiah dan kekuatan bagi saya, sedari awal saya mengenalkan kanker pada mereka. Membuat mereka mengerti ketika ibunya harus memaksa mereka menyantap apapun  yang mendatangkan kebaikan untuk tubuh dan kesehatannya.

Ada banyak cara Tuhan mengenalkan keajaiban kehidupan, saya selalu percaya tidak pernah ada yang sulit bagiNya. Momok mengerikan penyakit serius hanya ada pada dunia medis, bagiNya sungguh tidak ada yang tidak mungkin. 

Setiap pagi saat saya terbangun,... saya bersyukur dan berbisik di dalam hati.
" Terima kasih ya Allah,...sudah mendekorasi hidupku dengan begitu indah "  

# kamus :
Remisi : Hilangnya secara lengkap atau parsial atau tanda-tanda dan gejala penyakit sebagai respon terhadap pengobatan, masa dimana penyakit berada dibawah kontrol.
Meskipun remisi tidak selalu kesembuhan.
  
 



 
 

11/11/2012

Lelah,....


Lelah,...mungkin itu yang kau rasakan.
Lelah melihatku hilir mudik ke tempat berbau obat itu,
lelah mensuport dan menunggu, meski aku tak selalu ditunggu olehmu.
Lelah melihatku menjalani satu demi satu prosesnya,
Lelah melihatku merasa kesakitan,
Lelah melihat air mataku, 
Lelah hatimu karena khawatir, sedih dan tertekan.
Lelah melihatku terombang - ambing emosi.
Lelah,..ya lelah yg memaksamu harus menerima ini.

Lelah karena diskusi ku tak jauh dari ini,
lelah karena aku nyaris tidak perduli hal lainnya.
Lelah memahami dan mengobati luka psikologisku...
Sampai akhirnya malam ini, kau bilang STOP !

" Lupakan buku-buku ini,...lupakan bagaimana kondisimu.
Lupakan apapun hasilnya, lupakan semuanya.
Lupakan nanti, lupakan... !
Bahkan lupakan semua hal yang mengingatkanmu berfikir hal itu,
aku takut dan jangan mengingatkan aku, atau membicarakan hal ini
denganku lagi. Meski kau yang merasakan, tapi aku yang ketakutan ! "

Aku terdiam mendengarmu berkata itu,...dan berjanji, takkan lagi membuatmu merasa lebih lelah dari ini... Maafkan aku :(



 Image From Google

 

 



     
 

10/11/2012

Keep Your Live*r


Sebenarnya saya ingin menulis tema yang berbeda hari ini, tapi saya ingin sekali lagi memberi semangat pada teman saya yg juga sedang berjuang menjadi penyintas kanker saat ini yang diam-diam selalu membaca blogku, terima kasih :)... dan teman saya yang lain, yang mendampingi ibunda terkasih dengan breast cancer.... Don't give up now !


Banyak hal yang terjadi dalam hidupku, setidaknya Tuhan menghadirkan dua kejutan besar disaat usiaku yang belum terlalu banyak. Bertemu jodoh lalu menikah diusia muda dan vonis kanker di usia 22 tahun.

Pria yang punya keberanian, begitu aku menyebut suamiku. Melamarku setelah  dikenalkan selang 5 bulan dengan gadis yang baru dua thn lulus SMA dan terpaut usia sangat jauh, usiaku 19 tahun dan nyaris belum bisa diandalkan dalam hal apapun :D
Tapi pernikahan itu mengubahku dari anak mama yang sangat manja dan dimanja menjadi mandiri dan lebih kuat dibanding ketika menjadi gadis kesayangan orang tuaku. 

Lalu kejutan kedua,... kanker mengubah total hidupku secara keseluruhan. Kadang aku fikir kanker adalah salah satu cara Tuhan mendidikku berkenalan dengan kesabaran, kekuatan diri, semangat, empati, mengatasi rasa sakit, perjuangan dan harapan dengan begitu indah dan sarat makna, juga membuatku berkenalan lebih dekat dengan Tuhan.

Vonis awal kanker ku sepuluh tahun yang lalu, dan seperti pasien kanker lainnya harus melewati tahapan remisi dari satu tahun bertahan, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun begitu seterusnya. Kanker seolah membuat kita harus bersahabat dengan waktu. Tidak ada yang menjamin ditahun kesekian sel itu tidak kembali lagi. Kenyataan itu membuat para penyintas kanker sulit melupakan pengalaman kankernya yang melelahkan.

Tidak ada pelajaran paling efektif selain terpaksa ' merasakan ' rasa sakit bersamaan dengan ketakutan dalam zona berbahaya dan harapan yang samar.
Tidak ada orang yang memahami dengan begitu baik, bagaimana rasa sakit dan para pejuang kanker bertahan selain para sesama penyintas kanker itu sendiri... " jika ada yang tak mengerti, abaikan...anggap mereka gak gaul ;) " .

Andai sudah terlewati pun, banyak dari pejuang kanker yang masih membutuhkan waktu panjang menyembuhkan luka psikologisnya. Untukku pribadi pada akhirnya kanker bukan hukuman,...ini cara istimewa yang diberikan Tuhan pada sekian manusia yang mendapat kepercayaan begitu besar menanggungnya. " Kita dipercaya loh "  ;)

Yang kulakukan saat ini ? menjaga hubungan dekat dengan teman, kerabat, sahabat dan orang-orang terkasih dari pada terpuruk bersama orang-orang yang tidak perduli, dan kupastikan mereka tidak sepantasnya berada bersama ku sama sekali. Tidak terlalu serius menyikapi hidup, mencintai diri sendiri, menyertakan humor dan bersikap riang. Untuk seorang introvert hal seperti ini pun jelas butuh sedikit usaha. Juga makan yang baik, tidur cukup, dan tidak stress. Sepertinya mudah, tidak sesulit operasi,khemotherapy dan radiasi ;)

Aku masih mencari keseimbangan , prognosis dokter kanker masih menjadi ancaman untukku, tapi ijinkan aku hanya berfikir  " kanker memang kuat,...tapi tidak cukup kuat mematahkan semangat dan merengut harapan juga cinta, persahabatan dan senyuman kebahagiaanku "

Image from Google


Kalian tahu ? saya sungguh baik-baik saja sekarang, tak soal setumpuk obat yang harus saya minum setiap hari dan juga jadwal theraphy hingga beberapa bulan kedepan. 

 someone once asked me how i hold my head up so high after all i have been through...? i said ,... it's because no matter what ... i'm survivor , not a victim. Right ? ;)

And Now,... " KEEP YOUR LIVE*R "  of course colon too.... ^_^

 






 
 

 

 

26/10/2012

Tulisan beraura negatif ??


Menulis, membuat catatan, entah dilembaran diary atau pada kolom sebuah blog atau rumah virtual ? sayangnya kegiatan itu adalah salah satu hal dari beberapa hal yang saya sukai, bahkan mungkin saya cintai.

Menulis adalah hobi, menulis adalah refreshing jiwa saya. Apapun bisa saya tuliskan, dan jika saya sudah menulis kadang saya menjadi egois. Saya tidak perduli EYD, spasi atau aturan baku sebuah tulisan atau kalimat. Saya bisa menulis dimana pun, diantrian kereta, saat menunggu anak sekolah, diparkiran, dimana pun. Bisa di laptop, BB, atau hanya coretan di kertas kecil. i love a writing...

Akhir-akhir ini saya semakin aktif menulis, dulu blog hanya menyimpan kumpulan puisi-puisi dan prosa atau kumpulan inspirasi yang mampir di kepala saya. Entah puisi dari isi hati saya atau curhatan dan kisah para sahabat saya atau hanya imajinasi saja. Satu bulan ini, ada kondisi dimana saya merasa butuh untuk mengabadikan apapun yg saya alami khususnya mengenai catatan kesehatan saya. Bukan untuk mencari rasa belas kasihan, karena saya tidak butuh dan tidak ingin dikasihani. Atau mencari simpati, karena saya mendapat banyak perhatian dan kasih sayang dari keluarga dan tidak kekurangan akan hal itu. Tapi saya butuh untuk menulis,...menulis membuat saya lega. Saya butuh menulis untuk menyimpan arsip atau file kesehatan saya, saya butuh menulis karena saya dibayang-bayangi kemungkinan kanker yang bisa saja kembali menggerogoti tubuh saya dan bisa saja membuat saya tidak hidup lama, tulisan ini akan jadi catatan untuk anak-anak saya. Saya butuh menulis karena saya berharap teman-teman mengambil hikmah dari catatan harian saya, hingga memahami dan mensyukuri makna kesehatan yang sesungguhnya. Saya menulis karena tidak ingin keluarga dan teman-teman saya merasakan apa yang saya rasakan. 
Saya butuh menulis karena saya ingin berbagi,...saya butuh menulis untuk kepuasan bathin saya. Itu saja....

Tapi jika catatan saya ternyata membuat seorang  blogger berkomentar bahwa tulisan saya beraura negatif, entah mengapa saya sedih. Padahal bukan pertama kali tulisan saya mendapat kritikan.
Selama ini saya abaikan komentar apapun , melow, galau, sok puitis ( lah emang lg nuli puis) , saya anggap sah-sah saja komentar sinis atau kritikan. itu saya tanggapi dengan positif. Meskipun saya akhirnya gerah dan pernah mencoba untuk menjadi seperti orang lain, mencoba menulis dengan gaya orang lain. Saya pernah menulis dengan gaya beberapa blogger favorite saya yang lugas, konyol, ceria, bahkan saya paksakan menulis seperti itu. Tapi saya memang tidak bisa, itu bukan saya. Saya tidak bisa  menulis seperti orang lain. Jika tulisan saya tampak biru kelabu, itu bukan berarti kehidupan saya kelabu. Ada yg bilang bahwa tulisan adalah identitas diri, kita tidak bisa menjadi tomboy kalau kita femininkan?

Dalam pandangan saya beraura negatif itu adalah membawa dampak buruk untuk orang lain, sesuatu yang patut dihindari, sesuatu yang bisa membawa efek negatif pada orang lain, sesuatu yang tidak baik.

Maaf kali ini saya tidak bisa menerima tulisan saya dianggap beraura negatif,  tapi tetap berterima kasih pada blogger yang tulisannya positif itu. Terima kasih... terima kasih komentarnya, ini akan jadi pelajaran bagi saya.



banyakin menulis tentang kebahagiaan juga efektif buat mensugesti diri bahwa kita itu bahagia
gapapa nglepas unek unek tentang hidup yang galawa
tapi gaya bahasanya dirubah dikit sehingga tidak beraura negatif
ga sulit kok
aku sering melakukan itu

* Oh iya,... hidup saya tidak galaw sobat, saya bahagia dengan hidup yang saya jalani.
Bagaimana mungkin saya galaw kalau hidup seindah ini..? ahhh....andai kamu pernah di vonis kanker, atau orang yang kamu cintai di vonis kanker dan seumur hidup dibayang-bayangi penyakit itu dan divonis bisa kembali kapanpun, dan sedang menghadapi penyakit serius.  Saya gak yakin kamu gak akan galaww... ;)  
Sebelum menilai, cobalah berdiri ditempat orang lain sobat...maka kamu akan lebih mengerti dan lebih memahami.

Saya hanya kurang beruntung karena harus lebih sering ke RS dibanding jalan-jalan seperti kalian, itu saja !

Selebihnya kehidupan saya bahagia dan baik-baik saja,.....