Hai,...
Terima kasih untuk kamu yang mencintai dengan tanpa syarat, yang meski jauh atau dekat kamu selalu tak berjarak. Dekat di hatiku…dan aku dihatimu.
Terima kasih untuk semua pemahaman baru, untuk diskusi panjang lebar kita. Tentang matematika hidup sampai impian dan segala perenungan. Ketika diskusi berjalan hangat, atau menjadi ajang debat dengan intonasi suara dari tinggi hingga rendah.
Terima kasih untuk kamu yang selalu memiliki redaksi semua jawaban dari setiap pertanyaanku. Yang tidak pernah lelah menenangkan setiap gelisah dan resahku, yang menjadi penghiburan ketika aku merajuk. Dan menyadari arti hadirmu ditiap lingkar hidupku.
Terima kasih karena diantara naik turunnya irama hatiku, kamu selalu konstan. Selalu nyata dan teguh dengan semua hilir mudiknya prahara hingga air mata kita.
Terima kasih karena kamu selalu berusaha untuk menemukanku, meski aku seringkali berlari… kamu tahu aku selalu sulit menemukan arah dan kamu menuntunku kembali.
Terima kasih karena tidak pernah membiarkanku pergi, dan kamu yang tidak pernah ingin pergi. Terima kasih menemaniku sejauh ini,…kita tahu bahwa hati tak pernah bisa di tepati. Selalu berubah serupa arus dan gelombang. Jangan berjanji untuk tidak pergi, tapi berjanjilah tidak pernah berhenti mencintai….
Ps : Tiap hati memiliki takdirnya sendiri, ikuti saja kemana Sang Maha menuntumu...membawamu.
Dalam Diam
Image From Google
Aku terjemahkan diamku,
bersama bayangan wajahmu
dibalik warna hitam mataku.
bersama bayangan wajahmu
dibalik warna hitam mataku.
Sinar matamu yang terasa ringan,
ternyata terasa berat dipundakku.
Entah bagaimana harus berjalan tegak dengan rasa ini.
ternyata terasa berat dipundakku.
Entah bagaimana harus berjalan tegak dengan rasa ini.
Diamku bukan buih air yang hilang ditepian,
diamku bukan pula bayangan yang tak tentu arah.
Diamku adalah kau yang menyejukan hatiku…
diamku bukan pula bayangan yang tak tentu arah.
Diamku adalah kau yang menyejukan hatiku…
Masihkah bertanya mengapa aku diam ??
*Anonymus
Entah, mungkin celoteh saja…
Image from Google
Bulan penuh di langit malam ini, menyisakan kekaguman yang sangat pada pemilik semesta. Aku pada sebuah ruangan, duduk kadang menatap jauh pada jendela yang kubiarkan terbuka. Ada segelas hangat kopi bercampur krim yang aromanya menyebar, sebuah buku yang entah mengapa ku baca ulang, dan sesekali jemariku yang bergerak tak beraturan di atas tuts keyboard. kadang cepat seolah berlomba dengan kalimat yang seolah berlari di kepalaku, lalu pelan ketika kata-kata seolah tersendat.
Lama rasanya aku enggan membuka kolom dashboard di rumah virtual fiksiku ini, karena inspirasi yang menguap, rasa segan dan alasan sentimentil yang berbau kenangan yang enggan ku buka ulang. Ruang ini selalu berhasil membawaku berlari ke belakang, sekali waktu memaksaku membongkar laci-laci berlabel masa lalu. Mungkin karena inspirasi dan fiksi selalu hadir bersamaan dengan kisah-kisah yang tlah usang. Atau karena fiksi sendiri adalah cerita yang tak nyata atau tiada. Ku pungut dari serpihan kenangan, ku tulis dari kepingan mimpi.
Aku tersendat lagi,…. terdiam sesaat pada tuts keyboard…
Ruang ini slalu bernama rindu, entah rindu pada siapa atau rindu bermakna apa. Atau hanya rindu yang bermakna hanya kata pada aksara. Tidak bertuan,…
Kopiku hangat, kusesap perlahan… kebiasaan baru yang perlahan mulai mencandu. Selalu nikmat menikmatinya bersama ketikan jemari bersama aromanya yang menyebar. Meski tanpa penghayatan atau perasaan… diamlah disana, jangan pergi. Cukup menemaniku tanpa bicara, tanpa berkata, tanpa merasa, cukup bagiku kali ini. Tidak ingin lebih, cukup di sana… dan cukup bagiku disini. Rasa,…
Selalu ada kedamaian dalam keheningan, cukup rasa di hati saja…
Diary, aku jatuh cinta pada dokter onkologi
Dear Diary,…
Koridor RS pemerintah ini menjadi begitu kosong, hiruk pikuknya seolah lenyap dalam pandanganku. Sebulan sejak ibu berpulang aku menginjakkan kakiku kembali, disini. Begitu panjang hari-hari beraroma kesakitan jelang kepergiannya, kanker stadium lanjut membuat jiwa raga ibu dan hatiku tersakiti secara bersamaan. Menyakitkan melihat seseorang yang kukasihi berperang diarena peperangannya sendiri sedang aku hanya mampu berteriak ditepi mencoba menguatkan.
Hingga ketika akhirnya dia pergi, aku berbisik pada hatiku sendiri bahwa rasa sakitnya usai…kesakitan jiwamu juga usai. Mungkin aku naif, menjadi pendampingnya selama sakit dan membiarkanku larut begitu jauh pada semua hal yang menyertai perjuangannya. Aku jatuh cinta sepenuh rasaku pada perjuangan ibuku, berbelas kasih pada semua hal yang membuatnya tersenyum dipagi hari jelang operasi dan khemotheraphynya. Menaruh harapan pada suster-suster baik hati yang dengan telaten merawatnya. Dan jatuh cinta tanpa kompromi pada dokter yang entah mengapa serupa dengan pahlawan yang kutemukan pada cerita fiksi.
Visit nya setiap pagi tidak hanya menawarkan kesakitan dan kecemasan ibuku, tapi menghangatkan kelelahan hatiku. Kebaikan yang mungkin biasa, menjadi begitu bermakna ketika hari-hari ku minim harapan dan keyakinan. Cinta mengetuk hatiku diam-diam, tatapan dan senyumannya menjadi obat bagi kelelahanku.
Posted in FIKSI, PENDAR BINTANG
Langit Malam
Aku suka cara udara yg mengabarkan tentang tidurlah dalam dekap hangat mereka yg mengasihimu.
Aku suka ketenangan langit yg berbisik tentang, tenanglah … dan semua akan baik-baik saja.
Aku suka cara kerlip lampu dan pendar bintang yg saling berlomba memberi keindahan.
Aku suka membiarkan hati dan pikiranku terbang menemui harapan dan keyakinan bahwa hiduplah dengan hati yg gembira, belajarlah untuk terus syukur.
Tak apa sesekali jatuh dalam keluh, maafkan jika diri berbuat salah.
Sejatinya air mata mengabarkan tentang pemahaman hidup yg lebih baik dan tawa menyiarkan dekaplah terus harapan.
Aku suka ketenangan langit yg berbisik tentang, tenanglah … dan semua akan baik-baik saja.
Aku suka cara kerlip lampu dan pendar bintang yg saling berlomba memberi keindahan.
Aku suka membiarkan hati dan pikiranku terbang menemui harapan dan keyakinan bahwa hiduplah dengan hati yg gembira, belajarlah untuk terus syukur.
Tak apa sesekali jatuh dalam keluh, maafkan jika diri berbuat salah.
Sejatinya air mata mengabarkan tentang pemahaman hidup yg lebih baik dan tawa menyiarkan dekaplah terus harapan.
” Aku suka langit malam ini, tak apa meski udara dingin membuatku terus menjadi org plg berisik saat ini #batukterus “
13 September 2014
Posted in UNCATEGORIZED








