Pages

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

08/02/2017

Puisi Untuk Gusti di Museum Ullen Sentalu

Kembali ke kota Yogyakarta seperti kembali ke romansa tentang perjalanan lalu. Iya... Yogyakarta salah satu kota yang memiliki cerita manis tersendiri di dalam arsip perjalanan hidupku. Kota pelajar, kota keraton, kota yang menyimpan banyak sejarah masa lalu tentang negri ini, kota gudeg, kota bakpia, kota di mana salah satu keajaiban dunia borobudur berada. Kota dengan candi dan pantainya, kota dengan berjuta cerita manis yang mengendap di setiap relung kenangan mereka yang datang dan pergi di kota ini, kota yang ramah dengan inggih-inggihnya warga Jogja yang membuatku merasa pulang.

Awal bulan lalu aku kembali menemukan alasan untuk lagi merasa jatuh cinta pada kota ini. Bukan hanya pada setiap lintasan kenangan yang pernah terjadi kala itu. Bukan hanya tentang sebuah kedai dengan lampu-lampu redup menampilkan bayangan teduh yang menatapku dalam. Bukan tentang jalanan bertabur lampu malam yang mengendap dalam ingatan, karena sekeping asa yang berpendar di sana. Bukan hanya tentang cinta tanpa kadaluwarsa, tanpa spasi dan koma. Aku kembali merasa jatuh cinta pada sebuah tempat di mana labirin masa lalu membawa kita melewati waktu seolah kembali ke masa itu, masa di mana para putri dan raja berada di balik tembok istana. Yang bercerita tentang budaya, sejarah juga cinta.

Museum Ullen Sentalu Yogyakarta

27/02/2015

Aku Tidak Menangis Lagi

Mengapa murka pada Matahari ?
sedangkan sinarnya yang menjadi penghiburanku kala malam terlalu nyeri

Jangan mengumpat pada hujan, karena rintiknya mengikat erat air mata pada pengharapan.
Biar awan menjadi gelap, karena terkadang aku butuh langit suram untuk menutup luka.

Bukankah kau yang membaitkan tentang KeMaha KuasaanNya, mengapa menjadi lemah hanya karena nasib terlalu manis menyapa senja.

Ini hanya Tumor dan chemotheraphy, bukan mati itu sendiri.
Meski Aku tidak takut mati, aku hanya takut hidupku menjadi tak berarti.

Jika kau pernah berjalan dalam gelap,maka sinar serupa lilin pun menjadi terang senyala pijar kembang api. Aku bukan cirius, karena cahayanya terlalu indah dan benderang setelah matahari.
Mungkin aku hanya Canopus atau Alpha cetauri...

Atau bahkan hanya serupa mahluk kecil yang mungkin tak berarti.

Jangan bersedih untuk sesuatu yang kau yakini,...
Aku tidak menangis lagi,
rasa sakit hanya sedikit dari nikmat yang tlah banyak kuterima.

Sahabat jiwaku,...
Harusnya kau tahu sejak cancer mengetuk pintu ku dan seenaknya berdiam disana,
lalu aku berdiri dihadapanmu, riang, bahkan bernyanyi tentang mimpi-mimpi pagi dan puisi.

Aku tak mudah dikalahkan, setidaknya jika aku kalah aku sudah menari, bernyanyi, melukis impian dan mengejar segala harapan.

Jika egois, maafkan aku...
Saat jarak jarum dan nadi menjadi lebih tipis dari kulit ari.
Kau akan memahami, bahwa hidup bukan hanya rasa syukur, tapi menjalani... juga menikmati.

Akhhh, ini seperti keluhan sipemarah...
tapi percayalah, doa-doamu adalah pengurang kesakitan dan kelelahan bertemu vaksin dan therapy

~ Salam Senja ~

11/01/2015

Kata



Dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang....
kelak kau pasti kembali menemukannya
disela-sela kenangan penuh ilalang.
- Sapardi Djoko Damono -

Karena cinta tidak hanya tawa dan suka cita.
Cinta juga ada pada kehilangan, rasa sakit, air mata,
bahkan sebuah perpisahan...

01/01/2014

Gerimis pagi di januari


Aku memandangnya sepagi ini, luruh begitu saja menyentuh bumi.
Lembut membasahi dedaunan, melebur di sela akar-akar
dan tabah terserap tanah.
Menggemburkan ladang harapan, menyemaikan putik impian.

Aku masih terus memandangnya,
dari balik jendelaku yang bersekat.
Sesekali jemariku menggapai, berharap kesejukannya mengaliri setiap
jengkal dari buku jariku.

Gerimis di pagi hari kadang menjadi ilusi,
mengembalikan rekam jejak ingatan tentang hari kemarin.
Serupa aromanya yang menghembuskan hawa panas dari tanah basah.
Mungkin juga mengembalikan apa yang sejatinya tak ditempatnya.

Gerimis yang menyamarkan tawa dan tangis,
mengumpulkan kenangan terserak,
penghapus jejak yang tertinggal,
dan merekam sejuta harapan disetiap bait rinainya.

Gerimis pagi di januari,
mungkin air mata langit tentang waktu yang terus melaju,
atau penyejuk bagi harap cemas para petani. 
Mungkin juga irama para perindu...

Aku masih memandangnya,
gerimis pagi di januari...
bagiku tak hanya laksana ribuan jarum menghujam bumi
tapi berkah melimpah dari Yang Maha Tinggi.


Selamat tahun baru teman, sahabat dan semuanya ^_^

28/10/2013

Benang Merah


Image By Google

Yang kamu bilang benang merah itu mungkin seperti,
meski waktu berjalan cepat atau lambat
kita jauh atau dekat...
terucap atau terendap, kita masih terus bersama.
 dalam hati yang saling mengikat.

Iya, benang merah kita...

06/10/2013

Rumah Abadi Hanya Ada di Langit




 Dok. Pribadi 

Seperti bumi yang menerima dengan rela,
rintik hujan dan terik membakar dari sang surya.
Aku ingin dengan rela menerima segala,
tidak menangis ketika badai menerbangkan sukaku.

Seperti daun-daun kering ,
luruh jatuh ke tanah terinjak kaki-kaki
 tidak terluka dan marah pada angin,
yang menerbangkan dari ranting dan pohon.

Meski tak seteguh karang-karang,…
yang kukuh meski diterjang gelombang,
aku ingin menjadi aliran sungai kecil,
tenang,… sopan pada perahu-perahu
ramah pada ikan-ikan, tapi sampai di lautan.

Pada perjalanan yang membawaku pada arus dan gelombang,
aku ingin menjadi diam,
diam menerima,
diam dengan ikhlas,
diam bersama senyuman,
karena kehidupan adalah menerima dan dipahami dengan indah
karena kehidupan tidak kutakuti,
hanya ingin ku jalani , kunikmati dan ku syukuri…
  
* Mengabadikan catatan hati pada dinding virtual meski rumah abadi hanya ada di langit, karena masa muda abadi hanya ada di langit... * 

Note :  Sedang menikmati efek obat, MasyaAllah... *balikin semua cermin*  

29/09/2013

Tuan,...

 Image By Here

Tuan,...
Ini cinta, atau bisa jadi hanya rasa manis seperti susu kental bendera.
Meski ini manis yang tak biasa,
manis yang aku bahkan lupa pernah mengecapnya.
Semua mengalir adanya,
sampai pada titik aku dan kamu menjadi kita.
Lalu berjalan pada gelombang dan resonansi yang seirama.

Tuan,...
Aku sering bicara dalam tanda tanya, mengapa aku tuan ?
Dan tanpa ragu, anda bilang memang aku...

Tuan,...
Anda bilang sudah lama jatuh cinta padaku,
sudah terlalu lama hingga anda lupa sejak kapan itu bermula.
Lalu sejak kapan diam-diam anda menyelinap disini ?
Anda tidak romantis, nyaris tidak menghipnotis.
Tapi anda selalu tak menyerah,
dalam rentang jarak tak terbaca anda selalu ada.
Tulus dan slalu tak bersyarat selain anda mengasihiku.

14/09/2013

Dear Angin,...


By Google

 ” Di langit mana pun kini engkau menatap, di sejuk angin membelai atau badai gurun mengepung. Pada dinding berlukis keindahan fajar, atau lantai sunyi berpalung mimpi. Aku ingin merangkai aksara, tentang hari-hari berwajah puisi. Tentang ketegaran senja, atau keteguhan Sang Angin. Tentang tawa yang berderai, atau air mata yang jatuh di sudut yang sepi. Tentang hati yang jatuh pada tatapan sehitam malam, tentang langkahmu yang sesaat singgah pada kelembutan selendang jingga. Aku ingin membingkai puisi sekali lagi,… Ini tentang carcinoma dan khemotheraphy …. yang sudah seenaknya mengajarkan kita menerima garis nasib… ”


Dear Angin,…
Sudah lama jemariku tak menulis tentangmu,
entah berapa kali almanak berganti.
Masih ingat catatanku tentang harapan ?
Tentang kepasrahan yang kau sebut ketegaran,
tentang vonis satu beriringan vonis yang lain,
pernahkah kau berfikir kusimpan dimana air mata dan ketakutan?
Aku membiarkannya terbang,
menggantung pada batas langit dan melayang sejauh aku memandang.
Sesaat saja kubiarkan menyesak di rongga dadaku,
sesaat kubiarkan mengaktifkan kelenjar air mataku,
aku merasakan sakitnya, tepatnya menikmati dan kuterima.
Lalu kubiarkan terbang dan menggantung di angkasa.
Biar Pemilik Semesta yang merengkuh,
yang menyembuhkan dan menawarkan nikmatnya kesakitan.

Dear Angin,…
Aku bukan sahabat yang slalu ada untukmu,
bukan kakak atau adik yang setia diberandamu.
Bukan teman yang slalu ada saat kau butuh bercerita.
Apalagi kekasih dan pujaan hati,
entah apa…
Kamu pun tidak tahu label apa untuk seorang senja,
begitu juga aku, entah apa kamu bagiku,..
dan aku bagimu.
Aku mungkin hanya shiluet,
yang hanya sesaat hadir ketika langit berwarna tembaga,
setelah itu hilang tergantikan malam dan pagi.
Dan kamu angin, yang berhembus kemana kau ingin.

02/01/2013

Ode untuk Senja


" Biografi Senja "

 Sesekali aku adalah hujan, rebah selaksa musim tak kenal zaman
pada bumi yang lebat beruban.

Sesekali aku adalah pujangga, merangkai kata serupa makna
pada sepenggal wajah bernama senja.

Sesekali aku adalah mimpi, berlabuh pada tidur-tidur pagi
menayangkan tragedi atau dramaturgi.

Sesekali aku adalah sunyi, mengalir disepanjang kali
sebelum matahari menyudahi.

Sesekali aku adalah operasi, menamakan diri khemotheraphy
membuat rambutmu tinggal segenggam,sebelum rapi kau tanam
pada sepotong biografi bernama senja.

Purbalingga 2012 ~ Ketika Desember hendak beranjak


" Ode bagi sepotong wajah berkerudung jingga "

Aku menyanjung hujan, sesekali mengutuknya.

Seperti sore ini ia merayu sunyi, memaksaku menziarahi kembali
Sepotong wajah berkerudung jingga
Bermata sanyu seperti mengajakku, dan basah setelah hujan rebah.

Disini diatas di tanah bekasi, lalu kau menyebutnya janji
Pada sebait puisi yang sempat aku kemasi
sebelum kata akrab dengan lupa.

Baiklah Senja, Meski waktu kian lebat beruban
dan musim semakin lupa dengan zaman
jemariku tetap menuliskan ode puji-pujian
Sebelum lidahmu akrab menjuluki : lelaki pengingkar janji.

Purwokerto ~ di pertengahan Desember 2012


" Sebait Elegi bernama sunyi "

Ah kata-kata ini semakin menua, 
jatuh dan remuk tak terbaca
sementara angin setia memungutinya, mencatat lalu menitipkan pada senja.

Ah aku kubur saja kata-kata ini,
dengan sebait elegi bernama sunyi
Sebab langit tlah begitu tuli, bagi doa yang kupanjati.

Bumi manusia ~ Di penghujung Desember


# Ujarku,....
Entah sejak kapan barisan huruf begitu seenaknya
bermain, berloncatan, berirama di kepala hingga sudut-sudut hati.
Aku jatuh cinta pada puisi, entah sejak kapan
Mungkin sejak hati mulai berirama, mulai merasa...

Aku menyebutnya pemilik rumah kecil, seperti dia menamakan rumah virtualnya.
Bagiku yang berkali-kali berkunjung, kecil tapi luas dan hangat didalamnya.
Ada bunda pendamping hidup muara segala cinta 
atau si kecil Arsyad 
penguasa hati dari sahabat ku ini.

Barisan Ode ini mungkin tercipta karena, jika aku bisa menyebutnya seorang sahabat
adalah karena beliau pandai mengartikan catatanku,
betapa pemilik dunia kecil bernama  "Dunia Senja "ini 
begitu jatuh cinta pada puisi dan diksi.
Mungkin karena puisi terlampau mudah lahir dan tercipta 
dari ketikan jemari seperti begitu banyak inspirasi yang tertulis seorang Ibrahim di rumahnya.
Ini bentuk apresiasi ku pada kecintaanku pada puisi atau poetry,
ini karena terima kasihku,
Untuk Ode yang menghangatkan hati.
Terima Kasih dari Senja....

Image From Google
# Alhamdulillah puisiku yang ini jadi salah satu yang beruntung dapet GA
Semua tentang puisi nya Chika Rei 
Terima kasih Chika ;)