Mengapa murka pada Matahari ?
sedangkan sinarnya yang menjadi penghiburanku kala malam terlalu nyeri
Jangan mengumpat pada hujan, karena rintiknya mengikat erat air mata pada pengharapan.
Biar awan menjadi gelap, karena terkadang aku butuh langit suram untuk menutup luka.
Bukankah kau yang membaitkan tentang KeMaha KuasaanNya, mengapa menjadi lemah hanya karena nasib terlalu manis menyapa senja.
Ini hanya Tumor dan chemotheraphy, bukan mati itu sendiri.
Meski Aku tidak takut mati, aku hanya takut hidupku menjadi tak berarti.
Jika kau pernah berjalan dalam gelap,maka sinar serupa lilin pun menjadi terang senyala pijar kembang api. Aku bukan cirius, karena cahayanya terlalu indah dan benderang setelah matahari.
Mungkin aku hanya Canopus atau Alpha cetauri...
Atau bahkan hanya serupa mahluk kecil yang mungkin tak berarti.
Jangan bersedih untuk sesuatu yang kau yakini,...
Aku tidak menangis lagi,
rasa sakit hanya sedikit dari nikmat yang tlah banyak kuterima.
Sahabat jiwaku,...
Harusnya kau tahu sejak cancer mengetuk pintu ku dan seenaknya berdiam disana,
lalu aku berdiri dihadapanmu, riang, bahkan bernyanyi tentang mimpi-mimpi pagi dan puisi.
Aku tak mudah dikalahkan, setidaknya jika aku kalah aku sudah menari, bernyanyi, melukis impian dan mengejar segala harapan.
Jika egois, maafkan aku...
Saat jarak jarum dan nadi menjadi lebih tipis dari kulit ari.
Kau akan memahami, bahwa hidup bukan hanya rasa syukur, tapi menjalani... juga menikmati.
Akhhh, ini seperti keluhan sipemarah...
tapi percayalah, doa-doamu adalah pengurang kesakitan dan kelelahan bertemu vaksin dan therapy
~ Salam Senja ~
Showing posts with label Renungan Diri. Show all posts
Showing posts with label Renungan Diri. Show all posts
27/02/2015
07/11/2014
Iri yang mencuri kebahagiaan
Image From google
Pernahkah kita merasa tidak suka dengan kebahagiaan, kesenangan dan kesuksesan orang lain ?? rasanya manusiawi ketika kita merasa takjub atau merasa kagum lalu akhirnya, timbul perasaan ingin seperti orang lain yang terlihat happy atau terlihat sukses. Jika perasaan seperti itu berkembang menjadi motivasi bagi diri untuk mengejar kesuksesan atau kesenangan dengan cara yang positif, menjadikan perasaan iri tadi motivasi yang membangun, maka rasa iri menjadi tidak masalah.
Tapi ketika perasaan iri berkembang menjadi dengki, membenci dan akhirnya menimbulkan perasaa anti pati. Secara personal memusuhi dan bersikap tidak sepatutnya. Maka berhati-hatilah karena rasa iri sudah berhasil mencuri kebahagiaan diri kita. Bukan hanya mencuri kebahagiaan, iri juga mengikis kebajikan dan membekukan hati.
Sebagai manusia biasa, sifat dan sikap-sikap salah adalah sejatinya. Karena sebagai mahluk fana, manusia memang tempatnya khilaf dan salah. Kita hidup pada peta yang berbeda satu sama lain, kadang kita memandang kehidupan orang lain begitu sempurna. Bisa jadi orang lain justru melihat kehidupan kitalah yang mereka inginkan. Yang aku coba pahami adalah, bahwa setiap orang memiliki jalan dan cara hidup masing-masing. Bagaimana kita mengelola garis hidup kita dengan sikap terbaik yang kita bisa. Mengelola perasaan yang hadir entah iri, benci, suka, bahagia, sedih dan lain-lain dengan tetap berfikir bahwa semua ini adalah cara Tuhan mendidik kita untuk terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)
