Ini perjalanan yang sudah cukup panjang, setidaknya tahun ini jika ada sebuah perayaan akan ada lilin angka empat belas yang akan menyala. Ya, empat belas tahun menjalani hidup bersama bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan yang tidak selalu mudah, begitu banyak kerikil- kerikil tajam, tikungan bahkan jalan curam yang kami jalani, tapi juga banyak moment manis yang tercipta. Sesaat sebelum menulis ini, aku bahkan terkejut sendiri menyadari perjalanan kami sudah sampai di angka ini.
Hanya 5 bulan sejak kami dikenalkan dan dipertemukan, lalu menjalani kedekatan selama lima bulan itu dengan long distance. Aku di kota kuningan Cirebon Jawa barat dan suamiku yang saat itu bekerja dan tinggal di kota Jakarta. Singkat cerita kami menikah, dan aku langsung di ajak hijrah ke kota Bekasi dua hari setelah pernikahan.
Bayangan pernikahan dan pengantin baru yang indah langsung sirna saat itu, menyadari banyak hal yang ternyata diluar dugaan kami. Ternyata kami tidak saling mengenal dengan begitu baik, perbedaan usia yang cukup jauh lebih dari sepuluh tahun, selera dan kesukaan yang berbeda, dan banyak hal yang membuat komunikasi kami menjadi agak rumit. Saat itu pernikahan nyaris seperti kotak es yang hambar dan dingin bagiku.
Tuhan selalu mempunyai cara untuk mendekorasi hidup mahluk-Nya dengan begitu indah, vonis kanker yang mengetuk kehidupanku menghadirkan banyak hikmah. Salah satunya kedekatan yang terbangun antara aku dan suamiku saat menjalani musibah ini. Jarak yang kadang sulit terjembatani antara kami, perlahan semakin memendek. Aku mulai menyadari banyak hal tentang suamiku, diluar sikapnya yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara. Dia adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab dan penuh kasih, tentu dengan cara nya. Meski dia hanya akan duduk diam disamping ranjang perawatanku, tapi dia ada. Meski tanpa membisikkan kata-kata manis, dia ada untuk menggenggam tanganku saat aku sakit atau terluka. Dan itu cukup bagiku. Meski enggan terlibat dengan apa yang aku sukai, dia memberiku ruang agar aku tetap menjadi diriku sendiri.
Memory romantisme kami memang tidak begitu banyak, tapi kehidupan kami penuh warna. terlebih sejak hadirnya putri dan putra kami. Perbedaan usia dan karakter membuat hubungan kami bisa jadi tinggal sejarah jika hanya mengedepankan EGO. Berkali-kali pijakan ini goyah, ujian hubungan dan ujian kehidupan kadang membuat kami rapuh tapi sekaligus membuat kami sama-sama menjadi lebih kuat.
Dan akhirnya membuat kami belajar, kami menyadari konflik terbesar kami adalah komunikasi. Jika tidak sama-sama diam, biasanya kami akan sama-sama meledak. Maka pembelajaran dan cara memupuk kasih diantara kami adalah dengan mencari cara berkomunikasi yang membuat kami sama-sama nyaman. Dannnnn..... surat, email, sms, BBM, Whatsapp ternyata jadi cara komunikasi yang aman bagi kami saat sedang dalam masalah atau membutuhkan diskusi panjang. Tuliskan semua yang mengganjal perasaan, ungkapkan yang kita inginkan dan kirim, menulis membuat aku bisa mengeluarkan apa yang aku rasakan dan aku inginkan. Dan suamiku akan lebih mudah memahaminya, begitu juga sebaliknya. Saat konflik kami biasanya sama-sama diam, tapi nyampe kantor email panjang berbalasan untuk diskusi atau berantem :D.
Agak aneh dan gak biasa,... tapi cara ini selalu berhasil mengatasi konflik diantara kami. Jika suamimu begitu pendiam dan gak romantis apa yang harus dilakukan ? jika dia terlalu kaku, keras hati dan flat.... apa yang harus kita lakukan ? ya... ajarkan bagaimana kita ingin dicintai. Ajarkan bagaimana kita ingin diperlakukan. Ajarkan bahwa kadangkala gombal itu asyik dan bersikap lemah lembut dan mesra itu bahkan bisa melelehkan si gunung batu. Bagaimana jika memiliki istri yang jauh lebih muda dan moody, bagaimana jika memiliki istri yang misterius dan susah ditebak ( menurut suamiku ) hahaaay... ?? pengertian dan sabar ternyata jawaban dari suamiku heuheu. Jika dulu kami tidak menjalani 'pacaran' yang asyik, sekarang suamiku jadi pacarku yang penyayang.
Aku terlalu muda untuk kamu yang dewasa,
kita serasa beda dalam segala.
Tapi sekarang, suaramu adalah nyanyian indah buatku.
Dalam pernikahan komitmen dan komunikasi adalah segalanya, kadangkala saat usia menjadi semakin tua, istri tidak cantik lagi dan suami tidak lagi rupawan. Dan kelak cinta hanya menyisakan rasa sayang, nyamannya komunikasi dan persahabatan yang akan membuat hidup kita tetap terasa manis.