03/09/2013
Dear Daughter
Dear Daughter,... Tazkia Mutiara Senja
Mendapat tugas dari tante Indah dan melanjutkan tantangan menulis tentang anak-anak perempuan kami ( Makmin KEB ) akan ibu pergunakan untuk menuliskan perasaan ibu kepadamu Nak. Kelak ini akan menjadi salah satu catatan hati ibu tentangmu.
Skenario Tuhan yang membawa ayahmu ke dalam hidup ibu, beliau bilang didetik pertama bertemu, ayah langsung ingin menikah dengan ibu. Dan eyangmu segera mengatur pertunangan lalu pernikahan kami. Semua begitu cepat Nak, saat itu ibu berdoa semoga skenario Tuhan dan restu orang tua akan memudahkan segalanya.
Usia ibu masih sangat muda saat dinyatakan hamil, kemanjaan masa remaja masih melekat. Masa awal kehamilan yang tampak disebagian orang begitu indah menjadi begitu sulit bagi ibu. Anak manja yang sebelumnya tidak pernah jauh dari orang tua, tiba-tiba harus hidup terpisah. Meski ayahmu memudahkan segalanya tapi kesehatan ibu yang tidak begitu baik ditambah masa kehamilan membuat ibu begitu lemah dan selalu menutup diri. Namun gerakan mu di dalam kandungan ibu menyentuh jauh ke dalam naluri ibu yang terdalam.
Kaka lahir dengan selamat, sakitnya kontraksi, episiotomi dan melahirkan hilang tanpa jejak saat melihat wajahmu. Saat itu kaka mulai mengajarkan ibu makna tentang perjuangan dan kesabaran. Kaka tersayang... maafkan ibu karena saat itu ibu masih takut menggendongmu,belum mengerti bagaimana memandikan dan memakaikanmu baju. Ibu juga di landa baby blues. Untunglah ada Mba pengasuh yang bekerja di rumah untuk membantu mengurusmu, memandikan dan alhamdulillah saat itu ibu sempurna memberikanmu ASI. Perlahan ibu mulai belajar menjadi ibu yang sesungguhnya. Sekarang ibu tahu, dengan menghadirkanmu begitu cepat, Tuhan memberikan sekolah kehidupan lebih lengkap untuk ibu.
Kebebasan yang bertanggung jawab
Tema hari kedelapan berfokus pada negara Filipina :
Kebebasan berekspresi dinegara-negara ASEAN tidak sama, beberapa negara termasuk Indonesia bebas atau longgar dalam hal kebebasan pers dan kebebasan berekspresi bagi para blogger, yang sekarang menjadi salah satu alternatif dalam penyebaran informasi atau jurnalis warga. Tetapi ada juga negara yang mengekang kebebasan berekspresi warganegaranya, dan ada juga negara yang memenjarakan blogger jika tulisannya menentang pemerintahan negaranya.
Bagaimana dengan Filipina ? Apakah Filipina termasuk negara yang longgar dalam kebebasan berekspresi warganegaranya, termasuk blogger atau jurnalis warga?
Filipina adalah salah satu negara pendiri ASEAN, Filipina juga negara paling maju di Benua Asia setelah perang dunia ke II, meski sempat tertinggal dan mengalami kelemahan ekonomi dan meluasnya korupsi disana. Saat ini Filipina mengalami kemajuan ekonomi yang moderat, teknologi informasi yang tumbuh dengan pesat. Filipina disebut-sebut sebagai negara Benua ASIA yang banyak menyerap budaya barat begitu kuat.
Saat ini Filipina termasuk negara yang terkenal dengan kebebasan berekspresi bagi warganegaranya. Negara yang indeks kebebasannya terus berkembang, di mana kemajuan teknologi dan informasi begitu bebas disana. Negara Asia yang mengadaptasi kebudayaan barat, bahkan warga negaranya fasih menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi. Memang berbanding terbalik dengan kenyataan dimasa lalu negara itu. Filipina adalah negara paling berbahaya bagi pers saat itu, sejak memiliki pemerintahan sipil pada 1986, lebih dari 150 petugas pers terbunuh di sana.
Saat ini The World Press Freedom Day ( WPFD) di negara Asia tenggara baru di nikmati oleh beberapa negara salah satunya Filipina. Khusus di ASEAN kebebasan memang menjalar, Indonesia, Singapura, Brunei termasuk negara-negara yang perlahan kebebasan berekspresinya semakin longgar. Meski demikian bukan berarti kebebasan berekspresi khususnya pers sudah terwujud di Asia tenggara/ASEAN. Kawasan ini dinilai masih jauh jika dilihat dari standar International dalam hal kebebasan pers. Dibandingkan wilayah lain, Asia Tenggara masih memprihatinkan.
Kebebasan berekspresi bagi insan pers/blogger tentu merupakan hal yang paling menggembirakan. Meski masih banyak negara-negara yang membatasi penyebaran informasi melalui media, bahkan di Tiongkok pemerintah dengan mudah memenjarakan wartawan, blogger dan mengawasi dengan ketat para pemilik Blog dan memberlakukan sensor bagi setiap warganya dalam menyebarkan informasi.
Jika kita bisa menyampaikan semua informasi, berita, fakta secara ideal, dan proporsional. Kebebasan berekspresi yang sehat akan kita dapatkan. Pemerintahan yang ketat atau bebas, kontrol diri memang seharusnya terjadi pada setiap individu. Tidak ada kebebasan berekspresi yang tanpa resiko, itu sebabnya pergunakan kebebasan berekspresi baik sebagai pers, blogger atau personal secara bertanggung jawab.
Kebebasan berekspresi dinegara-negara ASEAN tidak sama, beberapa negara termasuk Indonesia bebas atau longgar dalam hal kebebasan pers dan kebebasan berekspresi bagi para blogger, yang sekarang menjadi salah satu alternatif dalam penyebaran informasi atau jurnalis warga. Tetapi ada juga negara yang mengekang kebebasan berekspresi warganegaranya, dan ada juga negara yang memenjarakan blogger jika tulisannya menentang pemerintahan negaranya.
Bagaimana dengan Filipina ? Apakah Filipina termasuk negara yang longgar dalam kebebasan berekspresi warganegaranya, termasuk blogger atau jurnalis warga?
Credit
Filipina adalah salah satu negara pendiri ASEAN, Filipina juga negara paling maju di Benua Asia setelah perang dunia ke II, meski sempat tertinggal dan mengalami kelemahan ekonomi dan meluasnya korupsi disana. Saat ini Filipina mengalami kemajuan ekonomi yang moderat, teknologi informasi yang tumbuh dengan pesat. Filipina disebut-sebut sebagai negara Benua ASIA yang banyak menyerap budaya barat begitu kuat.
Saat ini The World Press Freedom Day ( WPFD) di negara Asia tenggara baru di nikmati oleh beberapa negara salah satunya Filipina. Khusus di ASEAN kebebasan memang menjalar, Indonesia, Singapura, Brunei termasuk negara-negara yang perlahan kebebasan berekspresinya semakin longgar. Meski demikian bukan berarti kebebasan berekspresi khususnya pers sudah terwujud di Asia tenggara/ASEAN. Kawasan ini dinilai masih jauh jika dilihat dari standar International dalam hal kebebasan pers. Dibandingkan wilayah lain, Asia Tenggara masih memprihatinkan.
Kebebasan berekspresi bagi insan pers/blogger tentu merupakan hal yang paling menggembirakan. Meski masih banyak negara-negara yang membatasi penyebaran informasi melalui media, bahkan di Tiongkok pemerintah dengan mudah memenjarakan wartawan, blogger dan mengawasi dengan ketat para pemilik Blog dan memberlakukan sensor bagi setiap warganya dalam menyebarkan informasi.
Jika kita bisa menyampaikan semua informasi, berita, fakta secara ideal, dan proporsional. Kebebasan berekspresi yang sehat akan kita dapatkan. Pemerintahan yang ketat atau bebas, kontrol diri memang seharusnya terjadi pada setiap individu. Tidak ada kebebasan berekspresi yang tanpa resiko, itu sebabnya pergunakan kebebasan berekspresi baik sebagai pers, blogger atau personal secara bertanggung jawab.
02/09/2013
Sengketa Pulau Dua Negara Serumpun
Dengan sangat menyesal saya harus melewatkan tema hari ke 6 mengenai Laos dari lomba menulis #10daysforASEAN yang saya ikuti hampir satu minggu ini, karena keterbatasan waktu dan kesibukan yang membuat saya agak sulit meluangkan waktu untuk menulis kemarin #Ngelesss :D
Tema hari ke tujuh dari #10daysforASEAN adalah :
" Singapore dan problematikanya. Ada dua negara ASEAN yaitu Singapura dan Malaysia yang memiliki sengketa antar negara, terutama terkait dengan perbatasan antar negara salah satunya yaitu sengketa pulau Pedra Branca atau pulau Batu Puteh. Bagaimana penyelesaian konflik ini terkait dengan komunitas ASEAN 2015 "
Pulau Pedra Branca atau yang dikenal sebagai Pulau Batu Puteh bukanlah Pulau besar, ukurannya hanya seluas lapangan bola. Pulau yang berada diperairan selat Singapura dan disebelah pantai Johor Malaysia ini memang dianggap penting bagi negara Singapura. Pulau yang terdapat Mercusuar Horsburgh adalah acuan navigasi bagi kapal-kapal yang hendak masuk ke Singapura.
Sengketa menahun yang terjadi diantara dua negara ini memang tampak sulit dipecahkan, seolah masing-masing negara kukuh mempertahankan pulau ini sebagai bagian dari geografis negaranya. Padahal konflik yang dimulai sejak tahun 1979 ini sudah dicoba diselesaikan melalui Mahkamah International pada tahun 2008, yang menyerahkan pulau ini pada Singapura. Nyatanya sampai saat ini sengketa dua negara tidak kunjung selesai.
Singapura dan Malaysia bukan pertama kali saja melalukan serangkaian negosiasi bilateral. Singapura yang merasa telah mengoperasikan mercusuar Horsburgh sejak tahun 1851 merasa sudah mengelola pulau itu dan merupakan indikasi adanya penguasaan efektif atas pulau tersebut. Begitu juga Malaysia sama-sama mengemukakan argumen dihadapan mahkamah International atas rantai kepemilikan pulau tersebut. Sampai akhirnya Mahkamah International memberikan kepemilikan Pulau Pedra Branca pada kedaulatan negara Singapura, meski disambut dingin oleh pihak malaysia.
Terbentuknya komunitas ASEAN pada tahun 2015 nanti, diharapkan sengketa pulau ini mendapat titik terang. Adanya komunitas ini diharapkan akan membuka banyak kesempatan untuk saling berkomunikasi, saling bersinergi dan semakin merekatkan semua negara ASEAN khususnya dua negara ini. Melakukan dialog terus menerus mengenai konflik ini hingga menemukan titik temu yang memuaskan kedua belah pihak. Dengan komunikasi dan kerjasama disegala bidang yang lebih baik, diharapkan konflik-konflik seperti ini akan lebih mudah diselesaikan.
Sengketa dua negara ini mungkin bukan hanya soal perebutan pulau kecil ini saja, tapi menyangkut gerbang masuknya kapal-kapal yang menyangkut perdagangan dan ekonomi mungkin. Entahlah, sejujurnya saya tidak begitu paham. Saya mencoba membaca dan mencari tahu lewat Google dan mencoba memahaminya. Semoga saja pendapat saya ini tidak terlalu ngawur.
31/08/2013
Kopi bukan hanya sekedar ngopi
Tema hari kelima dari #10daysforASEAN :
" Sekarang ini minum kopi sudah menjadi bagian gaya hidup modern.Hampir diseluruh penjuru kota, tidak hanya di Indonesia tapi juga di ASEAN banyak tersebar gerai kopi. Didunia, negara penghasil kopi terbesar adalah Brazil, kedua Vietnam dan ketiga Indonesia. Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN, Menuju komunitas ASEAN 2015 ini, mampukah Indonesia dan Vietnam merebut pangsa pasar kopi dunia ? bisakah kedua negara tersebut menjadi partner produksi kopi,bukan menjadi rival atau pesaing. "
Saat ini kopi memang sudah menjadi gaya hidup, dari yang hanya penyuka sekedarnya sampai yang pencandu kopi yang menjadikan kopi sebagai minuman wajib mereka. Salah satunya sahabat saya Mira sahid yang menjadikan kopi bukan hanya sekedar pilihan saat duduk santai di coffee shop, tapi menjadi minuman wajibnya setiap hari bahkan sehari sampai beberapa kali. Ya kopi dengan efek cafeinnya yang membuat mata lebih 'terang' dan sensasi aroma dan rasanya yang berbeda.
Indonesia dan Vietnam sebagai dua negara ASEAN juga bisa bekerjasama dan saling berbagi informasi untuk menyaingi Brazil dalam hal kualitas dan kuantitas produk biji kopi. Saling mencari inovasi atau cara untuk menanam lebih banyak kopi terbaik seperti Arabika, selama ini Indonesia dan Vietnam lebih banyak menanam kopi kualitas lebih rendah yaitu Robusta. Persaingan tentu saja menjadi hal yang lumrah terjadi sebagai dua negara ASEAN yang sama-sama menjadi penghasil kopi terbesar. Tapi dibentuknya ASEAN Economic Comunity 2015 nanti, yang akan memudahkan perdagangan antar sesama negara ASEAN diharapkan membuat kedua negara ini menjadi dua penghasil kopi yang bisa bersinergi bersama dan mampu mengalahkan pasar dunia. Dalam hal ini mampu menyaingi penghasil kopi terbesar dan kopi terbaik di dunia, Brazil.
Tulisan ini diikutsertakan dalam : #10daysforASEAN
29/08/2013
Ketika berwisata ke Myanmar terganjal Visa
Tema hari keempat #10daysforASEAN semakin seru saja, alias semakin membuat kening saya berkerut. Beneran mengikuti lomba menulis 10 hari ngeblog untuk ASEAN ini lumayan berat untuk seseorang yang mengandalkan mood untuk menulis. *tutupmuka*
Tapi menyerah juga bukan cara saya, " Sudah daftar ya buktikanlah kamu bisa ngeblog selama 10 hari untuk ASEAN" bisik hati saya menyemangati diri sendiri. Itung-itung bentuk dukungan saya untuk terbentuknya ASEAN Economic Comunity (AEC) 2015 nanti.
Tema hari keempat #10daysforASEAN adalah :
" Visa : Hampir semua negara ASEAN sudah membebaskan pengurusan Visa bagi wisatawan yang akan berkunjung kenegaranya, namun tidak dengan Myanmar. kenapa ya ? berkunjung ke Myanmar gak cukup hanya dengan pasport saja. Perlu atau tidak Visa untuk perjalanan wisata "
Visa ? hemmm,...kalau pasport saya punya, tapi kalau Visa sayangnya belum punya gak ngerti seperti apa dan untuk apa. Tapi itu bukan alasan untuk nggak nulis tema ini kan ?. Pagi tadi sebelum suami saya berangkat ke kantor, saya sempatkan untuk bertanya soal Visa karena kebetulan beliau punya.
Menurutnya Visa dan Pasport adalah sama-sama dokumen penting bila kita ingin melakukan perjalanan keluar negri untuk tujuan apapun. Entah untuk bekerja, berlibur, perjalanan bisnis, berobat dan lain-lain. Jika pasport adalah dokumen berbentuk buku yang merupakan buku identitas diri kita yang dikeluarkan pemerintah Indonesia yang wajib diserahkan pada petugas imigrasi Indonesia dan petugas imigrasi negara tujuan.
Sedangkan Visa adalah dokumen tanda bukti ijin masuk yang dikeluarkan oleh negara yang akan kita tuju, kalau pasport berbentuk buku maka Visa berbentuk stiker yang nanti akan ditempelkan pada pasport kita. Contohnya jika kita akan ke Australia maka kita harus mengajukan permohonan pembuatan Visa ke kedutaan besar Australia atau negara yang ingin kita tuju yang berada di Indonesia. Karena permohonan pembuatan Visa memiliki banyak syarat, dikabulkan atau tidak tergantung lengkap atau tidaknya syarat yang kita penuhi. Jika permohonan Visa kita ditolak oleh kedutaan besar negara tujuan otomatis kita tidak akan bisa memasuki negara tersebut. Hufftt...ribet ya.
Nah berhubung Suami saya sudah hampir kesiangan jadilah pertanyaan-pertanyaan saya mengenai Visa seperti apa bentuknya dan kapan harus bikin visa ---> maksudnya kapan jalan-jalan supaya bikin Visa #Lol, harus terhenti begitu saja :D , dan dengan ringan meminta saya untuk bertanya langsung sama Om Google.
Untuk kunjungan ke negara-negara ASEAN ternyata kita gak harus bikin Visa, cukup berbekal pasport dan uang saku kita udah bisa masuk dan jalan-jalan ke hampir semua negara ASEAN kecuali Myanmar. Nah kalau temanya kenapa ke negara Myanmar kita harus tetep butuh Visa mungkin karena Myanmar adalah ' Negara baru ' di Asia, begitu juga di ASEAN. Kalau akhirnya negara Myanmar lebih selektif dan berhati-hati dalam memberikan ijin untuk mengunjungi negara mereka, menurut saya sih bisa di pahami.
Untuk mereka yang senang traveling baik pasport apalagi Visa jelas penting dimiliki untuk perjalanan wisata. Dengan memiliki Visa negara mana pun tujuan wisatanya akan bisa didatangi. Untuk yang belum punya Visa mungkin jalan-jalan di ASEAN aja dulu, untuk tujuan ke Myanmar tunggu penghapusan diberlakukannya VOA ( Visa On Arrival ) dulu kali ya. Nah kalau saya saat ini belum membutuhkan Visa, saya lebih membutuhkan kartu ATM saja dengan saldo yang selalu terisi. Bukan Visa itu ??? *senyum
Tulisan ini diikutsertakan dalam : #10daysforASEAN
28/08/2013
" Beauty of Khatulistiwa "
Hari ketiga #10dayforASEAN, temanya semakin seru :
" Indonesia kaya dengan beragam budaya, namun di sektor wisata, Malaysia lebih berhasil mem-branding “Truly ASIA”. Kira-kira apa ya branding yang cocok untuk Indonesia? Buat tagline, dan jelaskan kenapa tagline itu cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN "
Wah agak lumayan membuat kening berkerut nih, tapi saya coba ahh siapa tahu tagline yang saya buat malah jadi tagline beneran untuk Indonesia #ngayal -__-
Salah satu budaya Indonesia
Tidak ada yang memungkiri keindahan alamnya, gunung dan lautnya, pulau dan pantainya. Dan siapa yang tidak terkesan dengan keramahan tamahan penduduknya, kelezatan dan keunikan aneka makanannya. Siapa yang tidak jatuh cinta pada keteguhan Gunung bromo, dan keelokan Puncak jaya. Atau Danau kelimutu, candi Borobudur, pantai Lombok, atau Bali yang eksotis yang terkenal hingga ke mancanegara. Atau jalan-jalan impian saya ke kepulauan Raja Ampat yang memiliki keindahan alam laut yang mempesona. Indahnya Indonesia,...
Credit
Salah satu keindahan alam Indonesia :D
Berlebihan tagline nya ya ? bisa jadi, tapi jika saya diminta untuk membuat tagline untuk negara saya tercinta maka tagline itulah yang akan saya berikan.
Benar, jika indonesia juga memiliki banyak kekurangan. Kepadatan penduduknya, banjir, segala macam masalah sosial budaya, ekonomi, politik menjadi dilema negri ini. Tapi Indonesia tetap menjadi surga ( kedua ) bagi saya dimana keluarga dan saudara-saudara sebangsa saya tinggal. Dimana saya dilahirkan dan menghirup indahnya kehidupan. Bahkan bagi para pelaku korupsi pun Indonesia adalah surga bagi mereka. #Lol
Tapi jika tagline " The second heaven on the earth " gak eye catching saya berikan pilihan lain dari 25 tagline yang saya buat melalui ngelamun panjang seharian ini. Dengan alasan-alasan yang sama seperti deskripsi saya di atas tagline kedua untuk Indonesia adalah " Beauty of Khatulistiwa " Kita tahu bahwa khatulistiwa adalah sebutan untuk Indonesia. Jika di negara-negara ASEAN begitu terkenal tagline Malaysia dengan " Truly ASIA " maka indonesia dengan " Beauty of Khatulistiwa ". ---> keindahan negri yang dilewati garis khatulistiwa.
" Beberapa negara ASEAN yang wajib dikunjungi untuk destinasi liburan anda adalah, Truly ASIA, Negri kubah emas Brunei Darusallam dan Beauty of Khatulistiwa, Indonesia " hhhmmm... cocok !.
Dua Candi di Dua Negara Serumpun.
Hari kedua mengikuti lomba ngeblog #10daysforASEAN saya masih bersemangat dan semoga saja tetap terjaga semangatnya hingga hari kesepuluh, amin. Lupakan hasil akhir deh, saya sedang menikmati prosesnya untuk belajar konsisten menulis setiap hari. Lagipula gak ada ruginya mengikuti event keren ini. Siapa tahu saya bisa lebih pintar setelah ini :D.
Tema hari kedua dari #10daysforASEAN adalah :
" Sudah pernah berwisata ke candi Borobudur ? Menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Candi Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal, Borobudur dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat ada. Apakah ini menandakan bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun ? Apa pendapatmu mengenai hal itu ? "
Kalau candi Borobudur sudah pasti saya tahu dan pernah mengunjunginya di kota Magelang Jawa tengah beberapa tahun lalu. Candi ini adalah candi terbesar di dunia, bahkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Candi yang di bangun sekitar tahun 800 sebelum masehi atau abad ke 9 ini memakan waktu pembuatan hampir setengah abad. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti-dinasti. Raja Samaratungga disebut sebagai pendiri candi ini, mengingat lamanya pembangunan candi ini baru bisa diselesaikan pada masa pemerintahan Ratu Pramudhawardhani putri dari Raja Samaratungga. Sementara arsitek yang membangun candi ini menurut cerita turun temurun bernama Gunadharma.
Sedangkan candi Angkor Wat yang disebut juga sebagai candi terbesar kedua setelah candi borobudur ini adalah sama-sama kuil hindu yang berada di Kamboja yang dibangun pada masa pemerintahan Suryavarman ll . Dan sayangnya saya belum melihat keindahannya secara langsung. Secara fisik candi Angkor Wat adalah kawasan ibadah dengan bentuk persegi. Candi yang tersusun terdiri dari 5 hingga 10 juta susunan batu bata yang terbentuk dengan tersusun dan terstruktur dengan indah. Candi ini juga tampak megah dan penuh misteri.
Candi Borobudur dan candi Angkor Wat sama-sama memiliki bentuk yang besar, berundak dan luas. Sama-sama di bangun dari tumpukan batu yang sampai saat ini masih misteri bagaimana cara pembuatannya. Borobudur dibangun 3 abad lebih dulu dibanding candi Angkor Wat di Kamboja. Jika menurut ahli sejarah kedua candi ini memiliki kesamaan relief, apakah kesamaan itu bisa menjadi satu alasan bahwa Indonesia dan Kamboja itu serumpun ? Bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun ?
Kenyataan bahwa candi Borobudur dan candi Angkor Wat memiliki kesamaan relief bisa saja menjadi salah satu ciri, kita adalah dua negara serumpun. Atau seperti ahli sejarah yang menuliskan bahwa kedua candi itu di buat oleh seseorang yang sama-sama bernama Gunadharma, meski candi Borobudur dibuat 3 abad lebih dulu ??. Bisa jadi pembuatnya masih berada dalam garis keturunan yang sama hingga meski berbeda generasi memiliki kesamaan dalam pembuatan reliefnya. Entahlah...
Meskipun saya pikir mengapa kita disebut negara satu rumpun dengan Kamboja bukan karena persamaan relief ini saja. Indonesia juga disebut negara serumpun dengan beberapa negara lainnya, seperti Malaysia, Brunei Darusalam, bahkan Filifina (ASEAN).
Mengapa disebut negara serumpun ? karena kesamaan ras, bahasa dan kultur budaya, bahkan wilayah kita bertetangga yang membuat negara Indonesia dan beberapa negara tetangga menjadi satu rumpun. Negara serumpun juga mengandung makna persaudaraan yang kuat. Saling menghargai dan menjunjung kesetaraan, saling menghormati sesama warga dan antar negara.
Sebagai contoh, saat melakukan perjalanan ke Singapore beberapa waktu lalu. Saya masih menemukan banyak sekali kesamaan dengan Indonesia, saya masih merasakan atmosfir yang sama seperti di negri sendiri. Saya masih bisa makan nasi disana, cuaca yang tidak jauh berbeda dengan di negara tercinta, dan orang-orang yang juga memiliki bentuk tubuh ras yang sama yaitu Asia. Tentu akan sangat berbeda jika melakukan perjalanan ke negara Eropa. Sedangkan dengan Malaysia, Brunei, Kamboja, Singapore, dan semua negara ASEAN, dengan mudah kita akan melihat banyak kesamaan, karena kita adalah satu rumpun. Yang seharusnya memiliki hubungan lebih baik dibanding negara-negara yang lainnya.
Ibarat sebuah perumahan, negara serumpun adalah tetangga terdekat kita. Jadi jika ada persamaan relief antara candi Borobudur di Indonesia dan candi Angkor Wat di kamboja menandakan negara-negara di ASEAN itu serumpun. Saya pikir iya, persamaan relief bisa menjadi salah satu tanda negara-negara di ASEAN ini serumpun. Meski itu bukan satu-satunya alasan. Lalu kapan saya memiliki kesempatan untuk melihat keindahan negara-negara serumpun lainnya ? mari berdoa dan menabung ;) .
Tulisan ini diikutsertakan dalam : #10daysforASEAN
Subscribe to:
Posts (Atom)















