Pages

Showing posts with label Pernik Rasa. Show all posts
Showing posts with label Pernik Rasa. Show all posts

09/11/2016

Melankolisnya November

Mungkin karena belakangan awan kelabu yang suram semakin sering menggantung di angkasa, menutupi cahaya matahari hingga tampak kelam udara.

Atau karena akhir-akhir ini banyak rasa tidak nyaman, sinyal dari tubuh yang aku rasakan... ? tapi dokter bilang aku baik-baik saja, sesekali nyeri hebat di kepala atau abdomen selebihnya everything okey. Ketika aku masih bisa turun dari tempat tidur dan beraktifitas seperti biasa, semua baik-baik saja.


Atau jangan-jangan karena aku terlalu sering mengatakan aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja..., sampai aku lupa cara bagaimana mengungkapkan ketidaknyamanan perasaanku. Sampai aku lupa bagaimana mengurai atau menterjemahkan seperti apa sekelumit RASA yang entahlah bagaimana harus mengurainya, bagaimana harus menetralkan, bagaimana harus menjadi... bagaimana harus memadamkan sesuatu yang aku sendiri tidak paham harus berdiri di mana. Akhhhh betapa melankolisnya November.

08/02/2016

SENJA




" Irma senja ? masih saudaraan sama penulis Bunda Pipit senjakah mba ? "

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan seperti kalimat di atas, heuheu... nggak ada hubungannya sama sekali sebenarnya dengan penulis novel bunda Pipit senja kok. Saya menambahkan nama senja karena Senja adalah nama putri saya, Tazkia Senja. Jadi Irma Senja itu adalah Irma bundanya Tazkia Senja... gitu deh maksudnya :D

Dan menambahkan nama senja di belakang nama putri saya pun tentu bukan tanpa alasan. Saya suka suasana senja, menurut saya senja ... fenomena langit ketika matahari turun ke peraduannya adalah saat - saat yang magis, misterius sekaligus indah. Misterius karena menuju malam, ketika matahari terbenam dicakrawala dan tirai langit malam mulai turun... menutup hari, mengingatkan semua orang tentang hari siang yang tlah usai. Seolah mengingatkan pada kata pulang... tentang sebuah jeda, ketika adzan berkumandang pada surau atau masjid, senja menuntun siapapun untuk sejenak menepikan segala. Menepikan hati pada yang maha tinggi. Tapikan sekarang senja justru kadang menjadi awal menuju malam yang penuh cahaya ?? benar,... tapi senja dalam ingatanku di masa lalu adalah senja yang menjadi penutup hari. Senja yang mengingatkan pada waktu, bahwa semua hal ada batasnya...

28/12/2015

Di Jendela Tua


Angin bulan desember berhembus pelan melalui jendela tua yang terbuka, menerbangkan pashmina  panjang yang dia kenakan. Samar bibirnya tersenyum, mengingat sepenggal cerita, tentang sebuah perjalanan tak berujung, tentang cinta...

" Aku hanya mencintaimu, dulu...saat ini dan nanti. Selamanya... " 

" Aku juga,... " bisik wanita itu tanpa suara, hatinya riuh tentang banyak kata namun bibirnya terkunci begitu rapat.

Kalimat itu kembali terngiang di telinganya, seperti angin yang pelan membelai lirih terasa hingga membuat dadanya berdebar begitu keras. Tanpa sadar jemari tangannya dia tempelkan di dada, dia tekan perlahan seolah meredakan rasa sakit yang samar mengusik. Kalimat yang selalu dia dengar berulang sejak bertahun-tahun yang lalu tapi efeknya selalu sama dari waktu ke waktu. Selalu berhasil membuat dadanya merasakan rasa cinta dan sakit yang bersamaan.

" Aku tahu ini egois,... tapi tidak ada yang bisa menggantikan kamu, sekalipun dia. Kamu selalu jadi wanitaku. Selamanya .... "