Pages

Showing posts with label Imaji saja. Show all posts
Showing posts with label Imaji saja. Show all posts

27/09/2013

Matahari


By Here

Kali ini aku ingin matahari yang sejati. Matahari yang tinggi di tiang singgasananya yang jumawa. Matahari yang andai bisa mengubah warna hatiku yang temaram menjadi seterang siang, seperti membakar kulit pucat menjadi kecoklatan yang eksotis.
Aku ingin matahari yang menyilaukan pandanganku, memaksaku memakai topi atau kaca mata berbingkai lebar dan kaca hitam. Aku ingin matahari yang terik, yang mengeluarkan peluh dari seluruh pori-pori.

Mengapa,...??
Aku tidak menginginkan siapapun bertanya mengapa, karena aku tidak ingin menjawab.

19/11/2012

Black coffee and Green tea



Sebuah kedai kopi branded ketika langit menanjak tua. Disudutnya tampak dua sosok wanita usia 30 an sedikit menyita perhatianku. Dua wanita di usia puncak daya tarik ini tampak tak acuh pada beberapa pasang mata yang diam-diam sekilas memandang.

Tampak tegas perbedaan keduanya, meski terlihat menjadi harmoni di antara lampu kedai yang temaram. Pemilik rambut hitam sebahu dengan tatapan tajam dan wajah tegas namun ada kecantikan yang begitu kuat terpancar dari caranya bicara dan tersenyum, sesekali bibirnya pelan menghisap rokok putih. Wajahnya cantik dengan riasan pada pipi, mata dan bibir semakin menambah daya tariknya begitu jg pesona kulitnya yang tampak eksotis.

Sedangkan sosok wanita satunya tampak jauh lebih tenang, dengan rambut panjang kecoklatan dengan mata bulat dan kulitnya yang putih menjadi lebih pucat diremang cahaya kedai kopi malam itu. Tatap matanya teduh, bahasa tubuhnya lebih lembut, sesekali dia mencodongkan tubuhnya menjauh dari asap rokok yang dihembuskan sahabatnya perlahan. Sesekali bibir tipis tanpa pewarna itu mengembang menjadi seulas senyuman.
Kontras,...batinku berbisik memandang keduanya.

Secangkir coffee hitam dan green tea blended menemani perbincangan keduanya, diam-diam aku ikut menyimak pembicaraan mereka. Meja tempat ku duduk tepat bersebelahan, bahkan aroma parfum lembut mereka menggelitik penciumanku. Membangkitkan sensasi pada pria dewasa muda sepertiku.

" Aku memang menyukainya, tapi aku yakin ini hanya kesenangan sesaat saja. Aku tidak akan melibatkan hatiku, bahkan dengan tegas sudah kusampaikan padanya...jangan pake hati, cukup dirasakan dan tidak ada komitmen, just for fun lalu Stop " si rambut sebahu tesenyum tipis, meski dari sorot matanya ada kekhawatiran dan ketidakyakinan pada ucapannya sendiri.

Si rambut panjang menatapnya perlahan lalu berbisik seolah dia menyadari ada orang lain yang turut menyimak perbincangan keduanya.
" Hindari dia, bagaimana mungkin? kamu bisa bilang tidak akan melibatkan perasaan? kaum wanita seperti kita lebih peka soal ini, aku tidak ingin kamu terluka... krn aku gak yakin hatimu tdk merasakan apapun. Kita lihat , apa kamu bisa bilang stop dan hatimu tetap merdeka dan tidak jatuh cinta padanya " 

" tentu aku yakin, aku tahu pasti perasaanku untuknya bukan cinta begitu juga dia dengan kondisi kami seperti ini. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi seperti mu, 2 tahun patah hati untuk sesuatu yang seharusnya tidak membutuhkan penghayatan sebesar itu. lihat ? pria yang kamu kenang itu mungkin sudah melupakanmu begitu saja... " si rambut pendek menatap sahabatnya dengan kesal dan sesal.

Keduanya terdiam, aku turut berdebar... menunggu jawaban dari si rambut panjang berwajah pucat itu.
" dulu aku jatuh cinta,...aku mencintainya, itu saja dan aku tidak menyesal...meski kini aku patah hati karena berani jatuh cinta pada seseorang yang jelas2 terlahir bukan untukku "  
Ucapannya lebih tepat seperti bisikan angin, pelan dan sedih.

Si rambut sebahu menggenggam jemari si rambut panjang, tatap matanya melembut dan senyumnya seolah mengalirkan kekuatan yang ingin dia tularkan pada teman wanitanya ini. " kita akan baik-baik saja.... kau akan melupakannya segera, begitu jg aku. Lalu kita akan melangkah menjalani kehidupan nyata kita dengan bahagia. Setuju ? "

Sirambut panjang mengangguk dan tersenyum. Keduanya lalu mengangkat cangkirnya masing-masing, si rambut pendek dengan kopi hitamnya dan si rambut panjang dengan green tea blended-nya. Lalu pembicaraan lebih ringan mengalir, tentang gaya hidup, kesehatan dan obrolan ringan lainnya.

Diam-diam aku menatap keduanya...tampak tidak senada, dengan tampilan yang satu cantik dengan make up meski tidak menor dan rokok putih di bibirnya yang sensual, yang satu  dengan wajah yang nyaris tanpa make up sama sekali bahkan cenderung pucat tapi punya pesona tersendiri. Si rambut pendek tampak dinamis dan penuh percaya diri tapi si rambut panjang terlihat tertutup dan lebih pendiam. Sekilas semua orang bisa menilai, keduanya seperti singa dan kupu-kupu. Tapi ada kehangatan yang kutangkap, perbedaan mereka menjadi pemandangan yang saling melengkapi satu sama lain hingga tercipta harmoni yang sulit kutepiskan malam ini. Dua wanita usia sekitar 30 an dalam memaknai cinta yang berbeda, disudut kedai coffee ketika langit gelap dan bintang yang mengintip dari balik jendela, dan aku pria dewasa muda yang diam-diam terpesona pada keduanya. 

Aku menoleh dan kulihat mereka melangkah keluar kedai dengan senyum mengembang, mata bersinar, dan langkah ringan... sesekali tergelak, bahagia. 

Ketukan High heels keduanya menyerupai irama yang beradu dengan lantai tertinggal di sudut kedai kopi ini dan catatanku.


Image From Google


 

 

   

 

20/04/2012

Boulevard


 Tirai langit baru saja menyingkap lembayungnya,
namun kerlip lampu sepanjang boulevard
berlomba mencuri perhatian.
Ada degup tertahan seiring langkahku menuju mu.
Disebuah kedai teh itu kau menunggu.
Mata teduh itu menyapu setiap rona dari wajah pasiku.
Sejujurnya tatapanmu mengaburkan,
setiap kerlip dan keindahan malam disudut paris van java.
Tidak banyak kosakata yang fasih kuucapkan,
tidak lebih banyak dari berjuta bintang
yang berpendar dimatamu.
Aku datang untuk sesaat, tidak lebih dari satu dentang waktu.
Diantara kerlip lampu malam sepanjang boulevard,
aku terpaku,
ada cinta dimatamu...


Image from Google





11/04/2012

Biar saja,...

Dengan segala yang hilir mudik dihadapanku,
kamu masih menempati prioritas khayalan.
Masih berdiam disana,
disudut yang bahkan tanpa penerangan dan penghayatan.

Membaca motivasi hati, bahwa melupakan itu mudah saja.
Jadikan niat lalu deleted, selesai...
Anehnya kamu tidak pernah semudah itu !
Slalu timbul tenggelam dan berputar pd rotasi yang sama,
dilintasan galaksi hatiku.
tidak pernah terlepas meski kita tahu sudah saling melepaskan.

Aku sudah berhenti untuk menjadi bodoh dan naif,
berhenti menjadi fans abadimu.
Berhenti mengagumi setiap jengkal pesona 
dan semua hal yg slalu tampak menarik jika bernama kamu.
Tapi menjadikanmu tampak biasa dimataku,
lebih sulit lagi.

Ini sudah terlalu lama, 
sesungguhnya apa batasan cinta dan kekaguman,
sedang jari kita terlepas sedari dulu.
Curangnya waktu padaku.

Pada akhirnya aku merelakan sekeping ruang disudut itu
membiarkannya entah sampai kapan,
masih bernama kamu, meski tak pernah ada kamu.


*  Sejatinya cinta selalu menyembuhkan..... *