Pages

01/03/2011

Menepikan hati

*Wanita bertudung kabut,
meringkuk disudut,
adakah yang mampu membangunkanmu,
tuk sekedar membuka jendela,
membiarkan cahaya menelusup agar tak redup ruangmu.

**Aku tlah sampai ujungku,
langit tak pernah berkata cukup,
tiba ku pada kesadaran aku kosong,
aku bahkan mulai enggan perduli.
semalam tadi air mataku menderas,
pagi ini,smua menatapku!
tlah kukatupkan bibirku,aku malas mendengar penghiburan.
Usahlah menjadi sok memahami aku,
cukup membiarkanku,meski disebuah sudut aku tampak menyedihkan.
Usah membiarkan dada bidangmu untukku,
sekian waktu aku tak pernah membutuhkan itu.

Tahukah kau,…
aku mulai mengerti,
saat selaput pekat turun,bibir akan bicara kebenaran rasa yang tersimpan.
Alangkah naifnya kau dan aku.
ibaku pada kehebatanmu,
ibaku pada arogansiku katamu.

Kita terikat pada satu episode panjang,
entah kapan jalan bergandengan,
atau akan kian bersebrangan.

Sedari semalam tak sepatah kata terucap dari bibirku,
aku tidak sendiri tapi betapa kesunyian menggigilkan relung dan sendiri-sendiku.
Aku takut, kesenyapan ini mematikan seluruh indera perasaku.

Seperti waktu yang lampau,aku tertatih lalu mencoba berdiri.
Kini aku mulai menyadari,sekedarnya aku bagimu.
Kuputuskan berjalan saja,…lewati saja.
Setidaknya,…aku punya tempat untuk pulang, pulang ke rumahMU.

*Wanita bertudung kabut masih membeku,
apapun yang mencoba membangunkanmu urung lalu pergi tertunduk.



27/02/2011

Sesaat Merisau

Usah membuka kembali , untuk apa jika itu membuka gerbang kegelisahan dan kecemasan yang mengelilingimu ? membuat udaramu menjadi lembab,untuk apa ? ucapanmu memantul didinding ruangku.
Kau benar,... aku terkadang begitu arogan,mengakrabkan diri pada sesuatu yang sesungguhnya aku takuti. Menjadi begitu sok tahu dan mencari tahu sesuka aku,sesuka mauku.

Aku teringat ekspresi wajah seorang yang arif beberapa tahun yang lalu, lelaki berwibawa nan cerdas itu termangu sesaat ketika kumasuki ruangannya.
Sesaat menatapku dalam diam,.... entah apa yang ada dibenaknya,kode etik atau rasa iba.
Kupaksakan memasang topeng terbaikku,dengan senyuman dan binar cahaya dimataku berharap lelaki itu memenuhi mauku,mengikuti inginku.

" apa yang tinggal disana, apa yang sedang mengendap dalam ragaku hingga menghadirkan rasa luar biasa yang saban kali terasa membuatku ingin mati rasa ? "

" kanker kolon/usus besar " tatapannya iba...merasa bersalah karena termakan bujukanku menyampaikan langsung pada pasien keras kepala ini tanpa didampingi siapapun anggota keluarganya yg seharusnya menggenggam jemarinya saat vonis ini dia sampaikan.

Sejenak ada bayangan kematian melintas diatas kepalaku,sejenak nyeri di ulu hatiku...ada protes keras pada Sang Pemilik kehidupan,ada aliran bening yang kutahan lajunya agar tak luruh dikedua kelopakku. Aku terdiam....lalu setelah itu peperangan dimulai!

Itu dulu, akhir-akhir ini aku seringkali kembali membuka buku-buku lamaku yang hampir berdebu mengenai kanker dan tetek bengeknya. Pagi tadi salah satu stasiun tivi nasional menayangkan semua seba-serbi kanker, tentang bagaimana kanker tetap menjadi pembunuh kedua setelah serangan jantung. Bagaimana sel abnormal itu sesungguhnya tidak pernah bisa hilang dari tubuh seseorang,dia hanya tertidur dan bisa bangun kapanpun dengan kekuatan yang lebih menghancurkan dari pada sebelumnya.

tentang bagaimana seorang pasien kanker bahkan yang telah sembuh sekalipun harus tetap siaga penuh,bersiap jika kanker itu kembali. Kematian sesuatu yang mutlak....aku tahu pasti,tapi aku masih saja menyesak jika mengingat peperangan yang pernah aku lalui. Benar,...kanker bukan hanya merusak dan mengubah fisik seseorang tapi juga mental/psikologisnya.

Aku tak mendengar ucapanmu,aku terus menggerakan mouse dengan jemariku...menelusuri satu demi satu,melahap informasi sebanyak yang ingin aku tahu,meski keresahan mulai melingkupiku.

Ini karena ada sinyal yang diberikan tubuhku akhir-akhir ini,.... ini karena tetanggaku kembali kambuh,ini karena kerabat jauhku meninggal karena kanker.alangkah bodohnya aku,aku habiskan weekend ini dengan kegelisahan layaknya seorang pasien, aku lupa... andai pun aku seorang pasien,aku pasien istimewa yang tidak akan pernah kehilangan harapan karena harapan akan selalu ada. harapan tlah menjadi sahabat terbaikku melewati masa tersulitku,aku yakin dia akan tetap menemaniku hingga DIA membuatku berhenti meski hanya untuk berharap.




17/02/2011

PR dan Award dari sahabat

Mencoba mengerjakan PR dari sahabat blogerku mba reni , tugasnya menuliskan kata-kata inspirasi atau biasa mba reni sebut kata mutiara. Sulitnya kata mutiara ini tidak boleh kita copas dari mana pun.

Sebelumnya ini kata mutiara dari mba reni : " Saat hidup terasa sangat tidak mudah, yakinkah diri bahwa Allah telah mengatur segalanya dengan tujuan yang pasti sangat indah. "

Terima kasih untuk tugasnya mba reni,dan terima kasih untuk membagi mutiara katanya denganku :)

Aku termasuk yang suka sekali membaca kata-kata inspirasi atau kata mutiara,huruf-huruf ajaib yg membentuk kalimat tapi mampu menginspirasi orang.

Aku coba ya, kata mutiara versi irma senja, @_@....." jangan menyerah meski terkadang hidup terasa susah,selama kau mampu menyalakan pelita harapan dihatimu segalanya akan menjadi mudah "

Akhirnya,.... tugas sudah aku kerjakan mba reni, entah apakah kalimat ini bisa disebut kata yg mengandung mutiara kata. Setidaknya aku sudah mencoba ya mba ku ^_^
Makna dari kata mutiaraku, apapun yg terjadi slalulah hidup dengan harapan. Harapan pada Tuhan,pada kehidupan itu sendiri. Apa jadinya jika hidup sudah tidak memiliki harapan,mungkin sama dengan tidak hidup.

Selanjutnya PR ini aku teruskan untuk sahabat menulis puisiku yang lain seiri dan non inge , semoga tidak keberatan ya ^^

Ada award cantik dari mba yani , terima kasih untuk awardnya ya mba... senang sekali bisa berkenalan dengan mba yg ramah dan baik ini :)


28/01/2011

RuaNg

Memberanikan diri memasuki ruangmu,menatap potongan puzzle setiap kisah beraroma biru milikmu dan aku yg kau tata begitu rapih disetiap dindingnya. Yang kau susun begitu apik di lemari hatimu.

Saat kau dan aku begitu lekat....

Aku bergegas menutup rapat ruanganmu,ada debar yang merambati sudut hati.
Cukuplah menoleh sesaat pada ruang...ruang yg menyimpan selaksa goresan pena jiwamu.





* Dedicated for : sahabat menulis puisiku yang ruangnya menghadirkan inspirasi dan kerinduan pada keindahan syair dan ketulusan persahabatan.

18/01/2011

Dia serupa puisi

Dia serupa puisi,...
hangat dan menetap setelah menyentuh,
dan menghadirkan embun ditepian hati.

Dia serupa air,...
membasahi sekian kemarau,
mampu menjadikan kuncup bersemi
tak pada musimnya.

Dia serupa angin,...
memberikan semilir, melenakan dan melelapkan
jiwa yang rindu kesejukan.
menerbangkan kehampaan,
menjemput keindahan lewat sepoinya yang membelai.

sayangnya,....dia serupa badai...
memporandakan pondasi rasa,
mematahkan ranting hati,
tak terenovasi....

Dia masih serupa puisi,...
Masih serupa syair dan bait yang tak kunjung terpahami
entah mengapa begitu menetap dipalung hati......



10/12/2010

Mungkin

Waktu yang tersirap begitu cepat,seolah berlari hingga sampai dibatas aku harus memunggungimu dan kembali berjalan pergi.

Masih begitu nyata ketika tatapanmu yang kuacuhkan terus menerus menatapku lekat,seolah ingin memaksakan hatimu mengikatku erat.

Sudahlah,...kataku ketika itu,mencintaiku hanya akan menggoreskan luka mendalam di ruanganmu saja.

betapa akan ada banyak kesakitan yang kau rasakan,dan tak relaku menjadi penyebab luka-luka di hatimu yang sebegitu mencintaiku.

Katamu dimataku nyata tersimpan bayanganmu,aku menolak untuk menjadi 'kita' diatas dasar ketidak mungkinan. Aku lelah melakukan perjalanan yang ujungnya sebuah kata 'mungkin'

Mungkin kita akan bersama jika langit berkenan menyatukan kita di bawah atapnya, atau mungkin waktu bersama-sama menjadi teman kita hingga ujungnya.

Mungkin aku akan menjadi pemilik mutlak dirimu, memilikimu hingga ke tulang dan sumsummu... menyentuh wajah dan rambutmu yang baru terjaga dari tidurmu yang lelap.

mungkin,...ya,mungkin saja... karena mungkin juga cintaku tidak ada padamu !



07/12/2010

Jendela hati,.....

Wajah langit tampak berkabut dan gerimis luruh tampak suram terlihat di balik jendela,... meski rautmu merona,kadang berganti diam seperti biasa,atau mengulum senyum saat tak mampu bicara.
Bagaimana tidak, seluruh taman seolah bermurah hati memberikan aroma dan keindahannya kepadamu. Hingga kadang kau tertegun dan kehilangan kata,menerima begitu banyak tanpa memberikan apa-apa.

Segala yang terlalu banyak terkadang menghadirkan kabut yg bergulung menjadi dilema.
banyak yang berkecamuk di otakmu,kedalaman rasamu tergambar jelas dari kedua jendelamu yg sekilas kadang menyembunyikan tangis,menahan rasa,...menyembunyikan risau.

jangan terlalu lama memakai topeng kekuatan dan ketegaran,sedang hatimu bak kaca yg mudah pecah.Kelak akan mengkristal menjadi beku meski tampak bercahaya kau akan tetap merana.

Kini,...saatnya melembutkan hati,saatmu membuka jendelamu mencari apa yg sungguh-sungguh menghadirkan senyuman dari lubukmu yang terdalam.